KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan
kepada Allah SWT, yang mana berkat rahmatdan karunia-Nya lah kami dapat
menyesaikan penulisan Makalah Laporan PenelitianSosial ³
DISIPLIN SISWA
KELAS IX DI MADRASAH TSANAWIYAH PESANTREN PERSIS 51 PAMANUKAN yang kami susun untuk memenuhi salah
satu tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia tentang pembuatan karya ilmiah. Tak
lupa shalawat dan salam semoga tetap tercurah pada Nabi akhir zaman Muhammad
SAW,kepada keluarga, para sahabat dan seluruh umatnya.Besar harapan kami dengan
terselesaikannya makalah ini dapat menjadi bahan tambahan bagi penilaian
guru bidang studi Bahasa Indonesia dan mudah-mudahan isi dari makalah dan
penelitian kami ini dapat di ambil manfaatnya oleh semua pihak yang membaca
makalah ini.Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam penyusunan karya ilmiah ini.Kami sangat menyadari apa yang
kami susun ini sangat jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami sanga
mengharapkan adanya kritik yang bias membangun kami dalam upaya memperbaiki
karya-karya kami selanjutnya.
SUBANG 05
FEBRUARY
Penyusun
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................
i
DAFTAR ISI ..................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang.............................................................1
1.2
Rumusan Masalah
.......................................................2
1.3
Batasan Masalah
.........................................................3
1.4
Tujuan
Penelitian ........................................................4
1.5
Manfaat Penelitian
.......................................................5
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Disiplin ........................................................
2.2 Disiplin di
Sekolah ..................................................... .
2.3 Upaya
Meningkatkan Kedisiplinan Siswa ..................... 5
BAB III PEMBAHASAN HASIL
PENELITIAN
3.1. Jenis
Penelitian ........................................................ 7
3.2. Tempat dan
Waktu Pelaksanaan ................................. 7
3.3. Populasi dan
Sampel ................................................. 7
3.4. Sumber Data
............................................................. 8
3.5. Metode
Pengumpulan Data ........................................ 8
3.6. Analisa Data ...........................................................
8
BAB IV PEMBAHASAN
4.1.
Hasil
Penelitian ......................................................... 9
4.2.
Pembahasan
Hasil Penelitian ...................................... 10
BAB V PENUTUP
5.1.
Kesimpulan
............................................................. 11
5.2.
Saran
...........................................................................
DAFTAR PUSTAKA
ii
BAB. I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Seorang
siswa dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah tidak akan lepas dari
berbagai peraturan dan tata tertib yang diberlakukan di sekolahnya, dan setiap
siswa dituntut untuk dapat berperilaku sesuai dengan aturan dan tata tertib
yang berlaku di sekolahnya. Kepatuhan dan ketaatan siswa terhadap berbagai
aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolahnya itu biasa
disebut disiplin siswa. Sedangkan peraturan, tata tertib, dan berbagai
ketentuan lainnya yang berupaya mengatur perilaku siswa disebut disiplin
sekolah. Disiplin sekolah adalah usaha sekolah untuk memelihara perilaku
siswa agar tidak menyimpang dan dapat mendorong siswa untuk berperilaku sesuai
dengan norma, peraturan dan tata tertibyang berlaku di sekolah.Yang dimaksud
dengan aturan sekolah (school rule) tersebut, seperti aturan tentang standar
berpakaian (standards of clothing), ketepatan waktu, perilaku social dan etika
belajar/kerja. Pengertian disiplin sekolah kadangkala diterapkan pula untuk
memberikan hukuman (sanksi) sebagai konsekuensi dari pelanggaran terhadap
aturan, meski kadangkala menjadi kontroversi dalam menerapkan
metode pendisiplinannya, sehingga terjebak dalam bentuk kesalahan
perlakuan fisik (physical maltreatment) dan kesalahan perlakuan psikologis
(psychologicalmaltreatment), sebagaimana diungkapkan oleh Irwin A. Hyman dan
Pamela A.Snock dalam bukunya ³Dangerous School´ (1999).
1.2 Rumusan masalah
Adanya tindakan kurang disiplin yang
di lakukan siswa di Sekolah menimbulkan berbagai pertanyaan, diantaranya:
1. Apa penyebab utama perilaku tidak disiplin siswa.
2. Perilaku siswa apa saja yang dinilai tidak atau kurang
disiplin.
3. Faktor penyebab terhambatnya penerapan disiplin di sekolah.
4. Apa saja upaya-upaya yang bisa di lakukan warga sekolah
dalammeningkatkan penerapan disiplin di sekolah.
1.3 Batasan Masalah
Pada makalah ini kami hanya
mengambil kesimpulan dari penelitian yang diambil dari siswa kelas IX MTsN. PERSIS 51 PAMANUKAN
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan penyusunan karya ilmiah ini
adalah:
1. Memenuhi salah satu tugas mata pelajaran
2. Mengetahui seberapa besar pengaruh disiplin siswa terhadap
perkembangan prestasi dan tingkah laku di sekolah.
3. Ikut serta dalam upaya mengembangkan penanaman disiplin pada
diri siswa.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penyusunan karya ilmiah
ini adalah mengetahui seberapa besar penerapan disiplin yang
dilaksanakan oleh siswa di Madrasah Tsanawiyah PERSIS
51 PAMANUKAN khususnya kelas IX Dan seberapa besar upaya warga
sekolah, khususnya Guru dalam usaha meningkatkannya.
1
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Pengertian Disiplin
Disiplin
berasal dari bahasa latin Discere yang berarti belajar. Dari kata ini timbul
kata Disciplina yang berarti pengajaran atau pelatihan. Dan sekarang kata
disiplin mengalami perkembangan makna dalam beberapa pengertian. Pertama, disiplin diartikan sebagai kepatuhan terhadap peratuaran
atau tunduk pada pengawasan, dan pengendalian. Kedua,
disiplin sebagai latihan yang bertujuan mengembangkan diri agar dapat
berperilaku tertib.Dalam kehidupan sering kita dengar orang mengatakan bahwa si
X adalah orang yang memiliki disiplin yang tinggi, sedangkan si Y orang yang
kurang disiplin.Sebutan orang yang memiliki disiplin tinggi biasanya tertuju
kepada orang yang selalu hadir tepat waktu, taat terhadap aturan, berperilaku
sesuai dengan norma-norma yang berlaku, dan sejenisnya. Sebaliknya, sebutan
orang yang kurang disiplin biasanya ditujukkan
kepada orang yang kurang atau tidak dapat mentaati peraturandan ketentuan
berlaku, baik yang bersumber dari masyarakat
(konvensi-informal), pemerintah atau peraturan yang ditetapkan oleh suatu
lembaga tertentu(organisasional-formal).
2.2 Disiplin di Sekolah
Membicarakan
tentang disiplin sekolah tidak bisa dilepaskan dengan persoalan perilaku
negatif siswa. Perilaku negatif yang terjadi di kalangan siswa remaja pada
akhir-akhir ini tampaknya sudah sangat mengkhawarirkan, seperti: kehidupan
sex bebas, keterlibatan dalam narkoba, gang motor dan berbagai tindakan
yang menjurus ke arah kriminal lainnya, yang tidak hanya dapat merugikan diri
sendiri, tetapi juga merugikan masyarakat umum. Di lingkungan internal sekolah
pun pelanggaran terhadap berbagai aturan dan tata tertib sekolah masih sering
ditemukan yang merentang dari pelanggaran tingkat ringan sampai dengan
pelanggaran tingkat tinggi, seperti : kasus bolos, perkelahian,
nyontek, pemalakan, pencurian dan bentuk-bentuk penyimpangan
perilaku lainnya.Tentu saja, semua itu membutuhkan upaya pencegahan dan
penanggulangganya, dan di sinilah arti penting disiplin sekolah
Perilaku
siswa terbentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor
lingkungan, keluarga dan sekolah. Tidak dapat dipungkiri bahwa sekolah
merupakan salah satu faktor dominan dalam membentuk dan mempengaruhi
perilakusiswa. Di sekolah seorang siswa berinteraksi dengan para guru yang
mendidik danmengajarnya. Sikap, teladan, perbuatan dan perkataan para guru yang
dilihat dandidengar serta dianggap baik oleh siswa dapat meresap masuk begitu
dalam ke dalamhati sanubarinya dan dampaknya kadang-kadang melebihi pengaruh
dari orangtuanya di rumah. Sikap dan perilaku yang ditampilkan guru tersebut
pada dasarnyamerupakan bagian dari upaya pendisiplinan siswa di sekolah.Brown
dan Brown mengelompokkan beberapa penyebab perilaku siswa yang tidak disiplin,
sebagai berikut :
Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh guru
Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh sekolah;
kondisi sekolah yang kurang menyenangkan, kurang teratur, dan lain-lain dapat
menyebabkan perilaku yang kurang atau tidak disiplin.
Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh siswa , siswa
yang berasal darikeluarga yang broken home.
Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh kurikulum,
kurikulum yang tidak terlalu kaku, tidak atau kurang fleksibel, terlalu
dipaksakan dan lain-lain bisa menimbulkan perilaku yang tidak disiplin, dalam proses belajar
mengajar pada khususnya dan dalam proses pendidikan pada
umumnya.Pendekatan peraturan demokratis dilakukan dengan memberi
penjelasan,diskusi dan penalaran untuk membantu siswa memahami mengapa
diharapkanmematuhi dan menaati peraturan yang ada. Teknik ini menekankan aspek
edukatif bukan aspek hukuman. Sanksi atau hukuman dapat diberikan
kepada yang menolak atau melanggar tata tertib. Akan tetapi, hukuman
dimaksud sebagai upaya menyadarkan, mengoreksi dan mendidik. Dalam disiplin
sekolah yang demokratis,kemandirian dan tanggung jawab dapat berkembang. Siswa
patuh dan taat karenadidasari kesaadaran dirinya. Mengikuti peraturan yang ada
bukan karena terpaksa,melainkan atas kesadaran bahwa hal itu baik dan ada
manfaat.
Sanksi adalah hukuman yang diberikan kepada
siswa atau warga sekolahlainnya yang melanggar tata tertib atau kedisiplinan
yang telah diatur oleh sekolah,yang secara eksplisit berbentuk
larangan-larangan. Hal ini menurut Depdiknas(2001:10),
³Sanksi yang diterapkan agar bersifat mendidik, tidak bersifat hukumanfisik,
dan tidak menimbulkan trauma psikologis.´ Sanksi dapat diberikan
secara bertahap dari yang paling ringan sampai yang seberat-beratnya.
Sanksi tersebut dapat berupa:
1. Teguran lisan atau tertulis bagi yang melakukan pelanggaran
ringan terhadapketentuan sekolah yang ringan.
2. Hukuman pemberian tugas yang sifatnya mendidik, misalnya
membuatrangkuman buku tertentu, menterjemahkan tulisan berbahasa Inggris dan
lain-lain.
3. Melaporkan secara tertulis kepada orang tua siswa tentang
pelanggaran yangdilakukan putera-puterinya.
4. Memanggil yang bersangkutan bersama orang tuanya agar yang
bersangkutantidak mengulangi lagi pelanggaran yang diperbuatnya.
5. Melakukan skorsing kepada siswa apabila yang bersangkutan melakukan pelanggaran
peraturan sekolah berkali-kali dan cukup berat.
6. Mengeluarkan yang bersangkutan dari sekolah, misalnya yang
bersangkutantersangkut perkara pidana dan perdata yang dibuktikan oleh
pengadilan.
2.3 Upaya Meningkatkan Kedisiplinan Siswa
Reisman dan Payne (E. Mulyasa, 2003)
mengemukakan strategi umum merancang disiplin siswa, yaitu :
1. Konsep diri; untuk menumbuhkan konsep diri siswa sehingga
siswa dapat berperilaku disiplin, guru disarankan untuk bersikap empatik,
menerima,hangat dan terbuka;
2. Keterampilan berkomunikasi; guru terampil berkomunikasi yang
efektif sehingga mampu menerima perasaan dan mendorong kepatuhan siswa;
3. Konsekuensi-konsekuensi logis dan alami; guru disarankan
dapatmenunjukkan secara tepat perilaku yang salah, sehingga membantu siswa
dalam mengatasinya; dan memanfaatkan akibat-akibat logis dan alami
dari perilaku yang salah;
4. Klarifikasi nilai; guru membantu siswa dalam menjawab
pertanyaannyasendiri tentang nilai-nilai dan
membentuk sistem nilainya sendiri;
5. Analisis transaksional; guru disarankan guru belajar sebagai
orang dewasaterutama ketika berhadapan dengan siswa yang menghadapi masalah;
6. Terapi realitas; sekolah harus berupaya mengurangi kegagalan
danmeningkatkan keterlibatan. Guru perlu bersikap positif dan
bertanggung jawab; dan
7. Disiplin yang terintegrasi; metode ini menekankan
pengendalian penuh olehguru untuk mengembangkan dan mempertahankan peraturan;
8. Modifikasi perilaku; perilaku salah disebabkan oleh
lingkungan. Oleh karenaitu, dalam pembelajaran perlu diciptakan lingkungan yang
kondusif;
9.
Tantangan bagi disiplin; guru
diharapkan cekatan, sangat terorganisasi, dan dalam pengendalian yang tegas.
Pendekatan ini mengasumsikan bahwa peserta didik akan menghadapi berbagai
keterbatasan pada hari-hari pertamadi sekolah, dan guru perlu membiarkan mereka
untuk mengetahui siapa yang berada dalam posisi sebagai pemimpin.
2
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian adalah strategi
umum yang dianutpengumpulan data dan analisis yang diperlukan, dengan menjawab
persoalan yang dihadapi ini berarti metode penelitian merupakan suatu masalah
yang berdasarkan faktor empiris dan objektif untuk diuji secara ilmiah oleh
siapapun.Metode yang digunakan dalam suatu penelitian ditentukan oleh
sifat persoalan dan jenis data yang diperlukan. Oleh karena itu,dalam
memilih metode penelitian hendaknya harus dapat dan sesuai dengan kebutuhan
karena berhasiltidaknya penelitian tergantung pada sesuai tidaknya memilih dan
menerapkanmetode penelitiannya.
3.1. Jenis Penelitian
Penelitian
ini menggunakan metode kualitatif yang dapat diartikan sebagai prosedur
penulisan yag menghasilkan data data deskriptif kata-kata tertulis atau
lisandari perilaku orang-orang yang diamati.Sedangkan penulisan karya ilmiah
ini bersifat deskriptif, yaitu memberikan gambaran suatu keadaan tertentu
secara rinci disertai dengan bukti.
3.2 Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Penelitian
ini bertempat di MTsN. PERSIS 51 PAMANUKAN sedangkan waktu penelitian dilaksanakan
mulai tanggal 05 Februari sampai
06 FEBRUARI 2015
3.3 Populasi dan Sampel
A. Populasi
Menurut Suharsimi Arikunto (1997 :
108) yang dimaksud dengan populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Apabila
seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka
penelitiannya merupakan penelitian populasi. Sesuai dengan permasalahan
untuk menemukan jawaban dari penelitian ini, maka penelitian ini mengambil
populasi dari kelas XI
B. Sampel
Sampel merupakan sebagian atau wakil
yang diteliti.Dalam penelitian ini, peneliti mengambil sampel sebanyak 12 siswa
dari kelas XI
3.4 Sumber Data
Sumber data yang digunakan adalah
sumber data primer yaitu yang diperoleh dari hasil angket/lembar pengisian
soal.
3.5 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang
digunakan untuk menyusun karya ilmiah ini adalah dengan metode angket. Angket
merupakan lembaran yang berisi soal – soal serta bersagkutan dengan masalalah
yang diteliti, untuk diisi oleh pihak-pihak yang dimaksud oleh peneliti.
3.6 Analisa Data
Analisis data yang di pakai adalah
jumlah persentase jawaban siswa dari setiap pertanyaan yang ada pada angket
yang dibagikan, dari data tersebut di ambil kesimpulan keadaan disiplin siswa.
3
BAB . IV
PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Dengan metode angket/lembar
pengisian soal dari sampel sebanyak 12 siswa kelas IX
di MTsN.PERSIS 51 PAMANUKAN, peneliti berhasil mengumpulkan data
dibawah ini:
A. Pemahaman siswa tentang disiplin Hasil : dari penelitian 80
% siswa memahami arti dari disiplin sememtara sisanya kurang memahaminya.
B. Sudahkah siswa menerapkan disiplin dalam kehidupan sehari-hari
Hasil : dari hasil penelitiam di dapat:
o Sudah menerapkannya 50 %
o Sedikit/ kadang-kadang 40
%
o Belum 10%
C. Pernahkah siswa terlambat masuk ke sekolah Hasil : sebagian
besar siswa (10%) pernah terlambat datang ke sekolah.
D. Alasan siswa terlambat Hasil : hasil jawaban terbanyak
adalah factor jarak yang jauh antara rumah dan sekolah, dan ketersediaan
angkutan umum.
E. Pernahkah siswa bolos sekolah Hasil : 05%
dari responden menjawab ya, dan sisanya tidak.
F. Alasan jika bolos Hasil : 30 % menjawab karena iseng, 20 %
menghindari salah satu mata pelajaran Dan sisanya menjawab hanya mengikuti
ajakan teman.
G. Pernahkah siswa ditegur langsung oleh guru saat
melakukan tindakan yang dinilai kurang disiplin.Hasil : 30% menjawab sering,
50% menjawab pernah, sisanya belum pernah.
H. Peringatan yang diberikan guru terhadap siswa yang dinilai
kurang disiplinHasil :
o 30 % Di tegur saja
o 30 % Di marahi
o 20 % Di laporkan kepada orang tua
o Dan sisanya hanya diberi peringatan saja
I. Pernahkah pihak sekolah mengingatkan tentang pentingnya
pelaksanaan disiplinHasil : semua siswa menjawab pernah. Berarti pihak sekolah
selalu mengingatkansiswa tentang pentingnya kedisiplinan.
J. Bagaimana cara sekolah mengingatkan siswa pada
kedisiplinanHasil : adanya hasil yang hampir seragam, yaitu m sekolah
mengingatkan siswa dengan pemberian amanat Pembina upacara pada saat upacara
dan pelaksanaan penyuluhan langsung, serta penerapan peraturan yang
langsung ditindak lanjuti oleh kesiswaan.
4.2
Pembahasan
Hasil Penelitian
Dari hasil
penelitian, kita dapat mengetahui bahwa tingkat kedisiplinan setiap siswa
ternyata berbeda-beda, perlu usaha yang lebih serius dari pihak sekolah dalam
upaya meningkatkan kesadaran siswa terhadap kedisiplinan. Bukan hanya dengan peraturan
yang terkesan mengikat siswa, kedisiplinan bisa tumbuh bila siswa sering diberikan penyuluhan dan pengarahan
±pengarahan oleh berbagai pihak terutama lingkungan sekolah. Beberapa siswa
terbukti mempunyai tingkat kedisiplinan yang baik, itu berarti factor
utama dalam pelaksanaan disiplin adalah adanya kesadaran, bukanhanya sebuah
aturan. Tinggal
bagaimana pihak sekolah selaku pembimbing dan pelaksana pendidikan di
sekolah, mensiasati permasalahan ini.
BAB. V
PENUTUP
5.1. Ke.simpulan.
Penegakan
disiplin di sekolah tidak hanya berkaitan dengan masalah seputar kehadiran
atau tidak, terlambat atau tidak. Hal itu lebih mengacu pada pembentukan sebuah
lingkungan yang di dalamnya ada aturan bersama yang dihormati, dan
siapa pun yang melanggar mesti berani mempertanggungjawabkan perbuatannya. Setiap
pelanggaran atas kepentingan umum di dalam sekolah mesti diganjar dengan
hukuman yang mendidik sehingga siswa mampu memahami bahwa nilai disiplin itu
bukanlah bernilai demi disiplinnya itu sendiri, melainkan demi tujuan lain yang
lebih luas, yaitu demi stabilitas dan kedamaian hidup bersama.Disiplin sekolah,
menurut F.W. Foerster, merupakan keseluruhan ukuran bagitindakan-tindakan yang
menjamin kondisi-kondisi moral yang diperlukan, sehingga proses pendidikan
berjalan lancar dan tidak terganggu. Adanya
kedisiplinan dapat menjadi semacam tindakan preventif dan menyingkirkan hal-hal
yang membahayakan hidup kalangan pelajar. Sementara
itu, Komensky menggambarkan pentingnya kedisiplinan disekolah dengan
mengungkapkan, "Sekolah tanpa kedisiplinan adalah seperti
kincir tanpa air."
5.2. Saran
Dalam
rangka meningkatkan kedisiplinan siswa, ada beberapa upaya yang mungkin
bisa dilakukan diantaranya:
1. Untuk menumbuhkan konsep diri siswa sehingga siswa dapat
berperilaku disiplin, guru disarankan untuk bersikap empatik, menerima,
hangat dan terbuka;
2. Guru terampil berkomunikasi yang efektif sehingga mampu
menerima perasaan dan mendorong kepatuhan siswa;
3. Guru
disarankan dapat menunjukkan secara tepat perilaku yang salah,sehingga membantu
siswa dalam mengatasinya; dan memanfaatkan akibat-akibat logis dan alami dari
perilaku yang salah
DAFTAR PUSTAKA
Ø http://id.wikipedia.org/wiki/Disiplinhttp://tarmizi.wordpress.com/2015/05/02/kedisiplinan-siswa-di-sekolah/
Ø Srijanto Djarot, Drs., Waspodo
Eling, BA, Mulyadi Drs. 1994 Tata Negara Sekolah Menengah Umum. Surakarta: PT.
Pabelan.
Ø http://google.com/disiplinhttp://tarmizi.wordpress.com/kedisiplinan-siswa/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar