Sabtu, 14 Februari 2015

firdaus sumirat




MAKALAH KEIMANAN
DALAM KEISLAMAN






persis.jpg




Penyusun :


FIRDAUS SUMIRAT
DSC02315.JPG


MAKALAH KEIMANAN DALAM KEISLAMAN

Top of Form
Bottom of Form
Pendahuluan :
Latar belakang masalah
            Setiap orang yang ingin mendalami agamanya secara mendalam perlu mempelajari
teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Mempelajari teologi akan memberikan
seseorang keyakinan berdasarkan pada landasan kuat, yang tidak mudah diumbang-
ambingkan oleh perubahan zaman. Ini adalah diantara cuplikan kata- kata pendahuluan Harun
Nasution di dalam bukunya “Teologi Islam”.
Teologi, adalah membahaskan ajaran dasar dari sesuatu agama, dalam istilah Arab
disebut Usul al Din yaitu ajaran-ajaran dasar agama.
Teologi Islam bukan hanya membahas soal ketuhanan saja, tetapi juga membahas soal
keimanan. Iman adalah masalah mendasar yang dibahas di dalam aliran pemikiran Islam.
Para mutakallimin telah memberikan batasan dan pengertian yang mempunyai persamaan dan
perbedaan mengenai iman.
            Perbedaan dan persamaan konsep iman diantara mutakallimin akan lebih jelas
terdapat di dalam pendapat-pendapat lima aliran, yaitu:- Khawarij, Murjiah, Mu’tazilah,
Asy’ariah, dan Maturidiah. Persamaan dan perbedaan itu cukup banyak, tetapi di dalam
makalah ini hanya akan disentuh dalam hal-hal yang berkaitan dengan sejarah ringkas
timbulnya tentang konsep iman, kewajiban beriman dan amal, serta bertambah dan
berkurangnya iman.
Rumusan masalah :

1.      Apa Pengertian keimanan?
2.      Apa Faktor-faktor Yang mengurangi keimanan?
3.      Bagaimana cara meningkatkan keimanan?
Tujuan
Mengetahui keimanan dalam agama islam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Laman 1 dari 6
Laman 2 dari 6
 Pembahasan Keimanan dalam agama Islam
Keimanan sering disalahpahami dengan 'percaya', keimanan dalam Islam diawali dengan
usaha-usaha memahami kejadian dan kondisi alam sehingga timbul dari sana pengetahuan
akan adanya Yang Mengatur alam semesta ini, dari pengetahuan tersebut kemudian akal akan
berusaha memahami esensi dari pengetahuan yang didapatkan. Keimanan dalam ajaran Islam
tidak sama dengan dogma atau persangkaan tapi harus melalui ilmu dan pemahaman.
Implementasi dari sebuah keimanan seseorang adalah ia mampu berakhlak terpuji. Allah
sangat menyukai hambanya yang mempunyai akhlak terpuji. Akhlak terpuji dalam islam
disebut sebagai akhlak mahmudah.Beberapa contoh akhlak terpuji antara lain adalah bersikap
jujur, bertanggung jawab, amanah, baik hati, tawadhu, istiqomah dll. Sebagai umat islam kita
mempunyai suri tauladan yang perlu untuk dicontoh atau diikuti yaitu nabi Muhammad
SAW. Ia adalah sebaik-baik manusia yang berakhlak sempurna. Ketika Aisyah ditanya
bagaimana akhlak rosul, maka ia menjawab bahwa akhlak rosul adalah Al-quran. Artinya
rosul merupakan manusia yang menggambarkan akhlak seperti yang tertera di dalam Al-
quran
[10:36] Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya
persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
Adapun sikap 'percaya' didapatkan setelah memahami apa yang disampaikan oleh mu'min
mubaligh serta visi konsep kehidupan yang dibawakan. Percaya dalam Qur'an selalu dalam
konteks sesuatu yang ghaib, atau yang belum terrealisasi, ini artinya sifat orang yang beriman
dalam tingkat paling rendah adalah mempercayai perjuangan para pembawa risalah dalam
merealisasikan kondisi ideal bagi umat manusia yang dalam Qur'an disebut dengan 'surga',
serta meninggalkan kondisi buruk yang diamsalkan dengan 'neraka'. 
Dalam tingkat selanjutnya orang yang beriman ikut serta dalam misi penegakkan Din Islam.
Adapun sebutan orang yang beriman adalah Mu'min
Tahap dan Tingkatan Iman serta Keyakinan
Tahap-tahap keimanan dalam Islam adalah:
·         Dibenarkan di dalam qalbu (keyakinan mendalam akan Kebenaran yang disampaikan)
·         Diikrarkan dengan lisan (menyebarkan Kebenaran)
·         Diamalkan (merealisasikan iman dengan mengikuti contoh Rasul)
·         Tingkatan Keyakinan akan Kebenaran (Yaqin) adalah:
Ø  Ilmul Yaqin (berdasarkan ilmu)
Ø  'Ainul Yaqin (berdasarkan ilmu dan bukti-bukti akan Kebenaran)
Ø  Haqqul Yaqin (berdasarkan ilmu, bukti dan pengalaman akan Kebenaran)
Faktor-Faktor yang Mengurangi Keimanan
1.  Berkurangnya iman dengan meninggalkan sifat-sifat kesempurnaanya
Disamping dalil-dalil yang menunjukkan bertambahnya keimanan adapula dalil-dalil yang
menunjukkan bahwa keimanan sempurna sangat berat sehingga banyak pula dalil-dalil yang
menafikan keimanan yang sempurna dari seseorang yang berbuat kemaksiatan-kemaksiatan.
Allah -Subhanallahu wa Ta’ala- :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama
Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya
Laman 2 dari 6
Laman 3 dari 6
bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal” (Al-
Anfaal:2)
Dan firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta
dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar” (Al-
Hujuraat:15)
Kalimat “inna maa” merupakan “harfu hashrin” yang mengurung sesuatu pada sesuatu.
Sehingga makna ayat di atas adalah; hanya saja yang dikatakan mukmin adalah orang yang
berjihad dengan harta dan nyawanya, lain tidak. Atau yang disebut mukmin adalah orang-
orang yang apabila disebut nama Allah bergetar hatinya, yang tidak demikian tidak dikatakan
orang mukmin. Oleh karena itu sebagian manusia mengira dengan kaku bahwa yang tidak
memiliki sifat-sifat yang tersebut di atas adalah kafir. Padahal para ulama ahli tafsir
memahami bahwa yang dikurung dengan sifat-sifat tersebut adalah mukmin yang sempurna
imannya, maka makna ayat diatas adalah: “Sesungguhnya seorang mukmin yang sempurna
adalah….”. atau “Hanya saja mukmin hakiki adalah….:. dengan demikian orang yang tidak
memiliki sifat-sifat diatas belum tentu kafir, yang pasti bukan mukmin yang sempurna
imannya.
Maka jika tidak seperti yang Allah gambarkan di dalam ayat-ayat di atas ada dua
kemungkinan; bisa jadi tidak memiliki keimanan alias kafir (munafiq) atau kemungkinan
yang kedua, ia adalah seorang yang memiliki iman yang lemah dan tidak sempurna alias
belum mencapai gambaran yang Allah sebutkan dalam ayat-ayat di atas.
Dalam ayat lainnya Allah sifatkan pula orang-orang beriman dengan rinci yaitu di awal surat
Al-Mu’minuun:
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk
dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan)
yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang
menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki;
maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik
itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang
memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang
memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang
akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya”. (Al-Mu’minuun 1-11)
Dalam ayat di atas juga menggambarkan orang yang beriman dengan sebenar-benar
keimanan, sehingga orang yang tidak khusyu shalatnya bukan berarti tidak mukmin namun
tidak sempurna keimanannya. Demikian pula yang belum meninggalkan perbuatan-perbuatan
laghwun, yaitu perbuatan sia-sia bukan berarti kafir, namun orang yang belum sempurna
keimananya dan begitulah seterusnya. Hingga apabila mereka meninggalkan dasar-dasar
keimanannya seperti membatalkan syahadat dengan syirik besar, atau membatalkan syahadat
kedua dengan beriman ke[ada nabi-nabi palsu atau ingkar kepada rukun-rukun iman maka ia
kafir dan hilang imannya sama sekali.
Dengan keterangan tersebut berarti kita mengenali ada dua model keimanan, yaitu; keimanan
yang sempurna dan keimanan yang lemah. Sedangkan kelemahan itu relatif; ada yang dekat
pada kesempurnaan, ada pula yang di bawahnya dan di bawahnya, ada pula yang sangat
lemah mendekati kekufuran. Jika kita lihat ayat-ayat di atas dan kita tanyakan mana yang
Laman 3 dari 6
Laman 4 dari 6
lebih lemah, apakah seseorang yang tidak khusyu dalam shalatnya atau yang tidak khusyu
dan tidak meninggalkan perbuatan sia-sia atau seseorang yang disamping tidak khusyu, tidak
meninggalkan perbuatan sia-sia juga dia jatuh ke dalam zina dan tidak menjaga kemaluannya
dari yang haram. Tentunya secara fiqih, mereka yang meninggalkan sifat-sifat kesempurnaan
iman berarti dia lebih jauh dari kesempurnaan dan lebih lemah imannya. Inilah yang kita
namakan berkurangnya keimanan. Para ulama menyebutkan bahwa keimanan akan berkurang
dengan kemaksiatan-kemaksiatan, semakin banyak kemaksiatan yang dilakukan, maka akan
semakin berkurang keimanannya.
Berkata Imam Abu Utsman Ash-Shaabuni -rahimahullah- : “Di antara madzhab Ahlul-
Hadits adalah bahwa iman merupakan ucapan, amalan, dan pengenalan (terhadap Allah), bisa
bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan”. (Aqidatus-Salaf wa
Ashabul-Hadits, hlm:264)
Imam Ahmad -rahimahullah- pernah ditanya tentang makna bertambah dan berkurangnya
iman? Kemudian beliau menjawab dengan menukilkan ucapan dengan sanadnya sampai
kepada ‘Umair bin Hubaib -rahimahullah-, dia berkata: “Iman bertambah dan berkurang”.
Maka dia ditanya, “Bagaimana bertambah dan berkurangnya?” Dia menjawab: “Jika kita
ingat Allah, memuji-Nya, bertasbih kepada-Nya, maka demikianlah bertambahnya. Dan jika
kita lalai, melupakan-Nya, menyia-nyiakan-Nya maka itulah berkurangnya”. (Aqidatus-
Salaf wa Ashabul-Hadits, hlm:265-266)
Demikian pula kita katakan hadits-hadits yang menafikan keimanan dari orang yang belum
mengerjakan sifat-sifat kesempurnaan iman, seperti ucapan Rasulullah -salallahu’alaihi wa
sallam- : “Tidak beriman salah seorang kalian hingga engkau menyukai untuk saudaramu
apa-apa yang engkau sukai dari dirimu”. (Muttafaq ‘alaih)
Dalam hadits ini Rasulullah -shalallahu’alaihi wa sallam- memberikan syarat yang sangat
berat yaitu menyukai untuk saudaranya apa yang disukai oleh dirinya, namun apakah
bermakna orang yang egois yang mementingkan diri sendiri adalah kafir? Tentu tidak.
Dan sabda Rasulullah -shalallahu’alaihi wa sallam- lainnya:
“Tidak beriman seseorang di antara kalian hingga menjadikan aku lebih dicintai daripada
anaknya, orangtuanya atau seluruh manusia lainnya”. (Muttafaq’alaih)
Para ulama memahami ucapan Rasulullah -shalallahu’alaihi wa sallam- “tidak beriman”
adalah tidak beriman dengan keimanan yang sempurna.
2.    Berkurangnya iman dengan mengerjakan dosa-dosa
Dan ucapan-ucapan Rasulullah -shalallahu’alaihi wa sallam- lainnya yang meniadakan
keimanan bagi orang yang melakukan dosa-dosa tertentu:
“Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman!” Seseorang
bertanya, “Siapakah yang tidak beriman wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu
seseorang yang tetangganya merasa tidak aman karena gangguannya.” (Muttafaq’alaih)
Tentunya bukan bermakna kafir tetapi memiliki keimanan yang sempurna atau
menurunnya keimanannya, yang demikian karena sudah disebutkan secara jelas di dalam Al-
Quran pembatal-pembatal keimanan diantaranya kesyirikan yang besar. Dan juga telah
dijelaskan bahwa dosa-dosa selain syirik masih ada kemungkinan diampuni. 
Allah -Subhanallahu wa Ta’ala- berfirman:
Laman 4 dari 6
Laman 5 dari 6
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa
yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang
mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisa:48)
3.     Berkurangnya iman dengan meninggalkan cabang-cabang keimanan
Dalam riwayat yang lainnya Rasulullah -shalallahu’alaihi wa sallam- bersabda:
“Iman itu memiliki 70 lebih atau 60 lebih cabang, yang paling tinggi adalah Laa Ilaaha
Illallah, yang paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Dan malu adalah
bagian dari iman”. (Muttafaq’alaih)
Maka di dalam hadits diatas Rasulullah -shalallahu’alaihi wa sallam- menyebutkan bahwa
iman memiliki sekian cabang, yang paling tingginya adalah ucapan laa ilaaha illallah yang
paling rendahnya adalah menghilangkan gangguan dari jalan, di samping menunjukkan
bahwa perbuatan yang baik (amal shalih) termasuk dalam keimanan juga menunjukkan
bahwa jika berkurang cabang tersebut maka berkurang keimanannya, sampai hilang sama
sekali keimanannya. Hingga jika hilang cabang yang utama yaitu laa ilaaha illallah maka
hilanglah keimanannya secara keseluruhan.
Sufyan bin ‘Uyainah -rahimahullah- berkata: “Iman mencakup ucapan dan amal perbuatan,
bisa bertambah dan bisa berkurang”. Kemudian saudaranya yaitu Ibrahim bin ‘Uyainah
bertanya kepadanya: “(Apakah juga) berkurang?” Maka dia menjawab: “Diamlah kamu
wahai anak kecil! Tentu saja bisa berkurang, sampai-sampai tidak bersisa sama sekali”.
(Aqidatus-Salaf wa Ashabul-Hadits, hlm:270-271).
Setiap anak yang baru lahir mengetahui bahwa Tuhannya hanya satu yaitu
Allah Swt., tidak peduli keyakinan apa yang dipeluk oleh kedua orang tuanya. Namun bukan
berarti seorang anak yang lahir dengan fitrah seperti itu, atau keyakinan alami, ketika nanti
dia tumbuh besar akan menjadikannya seorang Muslim yang baik dan beriman.
Sudah menjadi tugas setiap Muslim untuk menjaga dan mengevaluasi kadar keimanannya.
Artinya seseorang harus secara rutin menjaga imannya dan mengamati apakah kadar
keimanannya berkurang atau bertambah dan mencari tahu apa sebabnya. Seandainya kadar
keimanannya berkurang, maka ia harus meningkatkannya sebelum benar-benar turun hingga
bisa menghancurkan hatinya. Terdapat banyak cara untuk meningkatkan kadar keimanan
seseorang dan perbuatan-perbuatan itu termasuk di dalamnya dengan memperbanyak berbuat
baik dan menghindari perbuatan dosa dan menjauhi orang yang mengajak kepada perbuatan
dosa itu.
Ada 10 langkah yang bisa ditempuh guna meningkatkan kadar keimanan kita:

1. Membaca dan merenungkan ayat-ayat Al-Qur'an. Dengan begitu akan membuat hati

tenang dan damai. Untuk mendapatkan manfaat yang lebih, anggap Allah sedang berbicara

dengan kita. Manusia digambarkan dalam beberapa kategori di dalam Al-Qur'an; pikirkan

kategori manusia seperti apa kita.

2. Menyadari kebesaran Allah Swt. Semuanya berada dalam kendali-Nya. Terdapat banyak

tanda-tanda kebesaran-Nya yang bisa kita saksikan. Semua yang terjadi merupakan

kehendak-Nya. Allah Swt. melihat dan mencatat segala sesuatu, bahkan seekor semut hitam

yang berada di bebatuan hitam di dalam malam yang gelap gulita tanpa sinar bulan tetap akan

terlihat dan dicatat.

3. Berusahalah untuk menambah pengetahuan, setidaknya sesuatu yang dasar dalam hidup

kita misalkan bagaimana berwudhu yang benar. Mengetahui makna di balik nama-nama

Allah dalam asmaul husna. Orang yang bertaqwa adalah mereka yang berilmu.

4. Menghadiri majelis-majelis yang di dalamnya berisi kegiatan untuk mengingat Allah.

Dalam majelis seperti itu kita akan dikelilingi oleh para malaikat.

5. Kita harus memperbanyak perbuatan baik. Satu perbuatan baik akan diikuti oleh perbuatan

baik lainnya. Allah Swt. akan mempermudah jalan bagi seseorang yang melakukan perbuatan

baik. Perbuatan baik harus dilakukan secara terus menerus bukan cuma sesekali saja.

6. Kita harus takut akan kematian; mengingat mati akan membuat kita takut untuk berbuat

kesenangan.

7. Mengingat beberapa tingkatan akhirat, contohnya ketika kita di dalam kubur, ketika kita

diadili atau ketika kita di surga atau neraka.

8. Berdoa, sebagai realisasi bahwa kita membutuhkan Dia. Tundukkan diri kita dan jangan iri

terdapat sesuatu yang berbau materi yang ada di dunia ini.

9. Cinta kita kepada Allah Swt. harus ditunjukkan dalam bukti nyata. Kita mengharap Allah

akan menerima semua ibadah kita, dan menghindarkan kita dari berbuat dosa. Sebelum tidur,

kita harus merenungkan perbuatan baik apa saja yang telah kita lakukan pada hari ini.

10. Menyadari dampak dari dosa dan ketidaktaatan- kadar keimanan seseorang akan

meningkat dengan cara berbuat baik dan kadar keimanan kita akan menurun apabila berbuat

maksiat. Semua yang terjadi merupakan kehendak-Nya. Ketika musibah menimpa kita-

itupun berasal dari Allah Swt. Dan merupakan akibat langsung dari ketidaktaatan kita

kepada-Nya.

·         PENUTUP

Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam

makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya

pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul

makalah ini.

Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang

membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di

kesempatan – kesempatan berikutnya.

Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman

pada umumnya.
PERSAHABATAN YANG HAKIKI
DSC02315.JPG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar