MAKALAH KEIMANAN
DALAM KEISLAMAN

Penyusun
:
FIRDAUS SUMIRAT

MAKALAH KEIMANAN DALAM KEISLAMAN
Pendahuluan :
Latar belakang masalah
Setiap
orang yang ingin mendalami agamanya secara mendalam perlu mempelajari
teologi yang terdapat dalam agama
yang dianutnya. Mempelajari teologi akan memberikan
seseorang keyakinan berdasarkan pada
landasan kuat, yang tidak mudah diumbang-
ambingkan oleh perubahan zaman. Ini
adalah diantara cuplikan kata- kata pendahuluan Harun
Nasution di dalam bukunya “Teologi
Islam”.
Teologi, adalah membahaskan ajaran dasar dari sesuatu agama, dalam
istilah Arab
disebut Usul al Din yaitu
ajaran-ajaran dasar agama.
Teologi Islam bukan hanya membahas
soal ketuhanan saja, tetapi juga membahas soal
keimanan. Iman adalah masalah
mendasar yang dibahas di dalam aliran pemikiran Islam.
Para mutakallimin telah
memberikan batasan dan pengertian yang mempunyai persamaan dan
perbedaan mengenai iman.
Perbedaan dan persamaan konsep iman diantara mutakallimin
akan lebih jelas
terdapat di dalam pendapat-pendapat
lima aliran, yaitu:- Khawarij, Murjiah, Mu’tazilah,
Asy’ariah, dan Maturidiah. Persamaan
dan perbedaan itu cukup banyak, tetapi di dalam
makalah ini hanya akan disentuh
dalam hal-hal yang berkaitan dengan sejarah ringkas
timbulnya tentang konsep iman,
kewajiban beriman dan amal, serta bertambah dan
berkurangnya iman.
Rumusan masalah :
1. Apa
Pengertian keimanan?
2. Apa
Faktor-faktor Yang mengurangi keimanan?
3.
Bagaimana cara meningkatkan keimanan?
Tujuan
Mengetahui keimanan dalam agama
islam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Laman
2 dari 6
Pembahasan Keimanan dalam agama Islam
Keimanan
sering disalahpahami dengan 'percaya', keimanan dalam Islam diawali dengan
usaha-usaha memahami kejadian dan
kondisi alam sehingga timbul dari sana pengetahuan
akan adanya Yang Mengatur alam
semesta ini, dari pengetahuan tersebut kemudian akal akan
berusaha memahami esensi dari
pengetahuan yang didapatkan. Keimanan dalam ajaran Islam
tidak sama dengan dogma atau
persangkaan tapi harus melalui ilmu dan pemahaman.
Implementasi dari sebuah keimanan
seseorang adalah ia mampu berakhlak terpuji. Allah
sangat menyukai hambanya yang
mempunyai akhlak terpuji. Akhlak terpuji dalam islam
disebut sebagai akhlak
mahmudah.Beberapa contoh akhlak terpuji antara lain adalah bersikap
jujur, bertanggung jawab, amanah,
baik hati, tawadhu, istiqomah dll. Sebagai umat islam kita
mempunyai suri tauladan yang perlu
untuk dicontoh atau diikuti yaitu nabi Muhammad
SAW. Ia adalah sebaik-baik manusia
yang berakhlak sempurna. Ketika Aisyah ditanya
bagaimana akhlak rosul, maka ia
menjawab bahwa akhlak rosul adalah Al-quran. Artinya
rosul merupakan manusia yang
menggambarkan akhlak seperti yang tertera di dalam Al-
quran
[10:36] Dan kebanyakan mereka tidak
mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya
persangkaan itu tidak sedikitpun
berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui apa yang mereka
kerjakan.
Adapun sikap 'percaya' didapatkan
setelah memahami apa yang disampaikan oleh mu'min
mubaligh serta visi konsep kehidupan
yang dibawakan. Percaya dalam Qur'an selalu dalam
konteks sesuatu yang ghaib, atau
yang belum terrealisasi, ini artinya sifat orang yang beriman
dalam tingkat paling rendah adalah
mempercayai perjuangan para pembawa risalah dalam
merealisasikan kondisi ideal bagi
umat manusia yang dalam Qur'an disebut dengan 'surga',
serta meninggalkan kondisi buruk
yang diamsalkan dengan 'neraka'.
Dalam tingkat selanjutnya orang yang
beriman ikut serta dalam misi penegakkan Din Islam.
Adapun sebutan orang yang beriman
adalah Mu'min
Tahap dan Tingkatan Iman serta
Keyakinan
Tahap-tahap keimanan dalam Islam
adalah:
·
Dibenarkan
di dalam qalbu (keyakinan mendalam akan Kebenaran yang disampaikan)
·
Diikrarkan
dengan lisan (menyebarkan Kebenaran)
·
Diamalkan
(merealisasikan iman dengan mengikuti contoh Rasul)
·
Tingkatan
Keyakinan akan Kebenaran (Yaqin) adalah:
Ø
Ilmul
Yaqin (berdasarkan ilmu)
Ø
'Ainul
Yaqin (berdasarkan ilmu dan bukti-bukti akan Kebenaran)
Ø
Haqqul
Yaqin (berdasarkan ilmu, bukti dan pengalaman akan Kebenaran)
Faktor-Faktor yang Mengurangi
Keimanan
1. Berkurangnya iman dengan meninggalkan
sifat-sifat kesempurnaanya
Disamping dalil-dalil yang
menunjukkan bertambahnya keimanan adapula dalil-dalil yang
menunjukkan bahwa keimanan sempurna
sangat berat sehingga banyak pula dalil-dalil yang
menafikan keimanan yang sempurna
dari seseorang yang berbuat kemaksiatan-kemaksiatan.
Allah -Subhanallahu wa Ta’ala- :
“Sesungguhnya orang-orang yang
beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama
Allah gemetarlah hati mereka, dan
apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya
Laman
3 dari 6
bertambahlah iman mereka (karenanya)
dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal” (Al-
Anfaal:2)
Dan firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang
beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka
tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta
dan jiwa mereka pada jalan Allah,
mereka itulah orang-orang yang benar” (Al-
Hujuraat:15)
Kalimat “inna maa” merupakan “harfu
hashrin” yang mengurung sesuatu pada sesuatu.
Sehingga makna ayat di atas adalah;
hanya saja yang dikatakan mukmin adalah orang yang
berjihad dengan harta dan nyawanya,
lain tidak. Atau yang disebut mukmin adalah orang-
orang yang apabila disebut nama
Allah bergetar hatinya, yang tidak demikian tidak dikatakan
orang mukmin. Oleh karena itu
sebagian manusia mengira dengan kaku bahwa yang tidak
memiliki sifat-sifat yang tersebut
di atas adalah kafir. Padahal para ulama ahli tafsir
memahami bahwa yang dikurung dengan
sifat-sifat tersebut adalah mukmin yang sempurna
imannya, maka makna ayat diatas
adalah: “Sesungguhnya seorang mukmin yang sempurna
adalah….”. atau “Hanya saja mukmin
hakiki adalah….:. dengan demikian orang yang tidak
memiliki sifat-sifat diatas belum
tentu kafir, yang pasti bukan mukmin yang sempurna
imannya.
Maka jika tidak seperti yang Allah
gambarkan di dalam ayat-ayat di atas ada dua
kemungkinan; bisa jadi tidak
memiliki keimanan alias kafir (munafiq) atau kemungkinan
yang kedua, ia adalah seorang yang
memiliki iman yang lemah dan tidak sempurna alias
belum mencapai gambaran yang Allah
sebutkan dalam ayat-ayat di atas.
Dalam ayat lainnya Allah sifatkan
pula orang-orang beriman dengan rinci yaitu di awal surat
Al-Mu’minuun:
“Sesungguhnya beruntunglah
orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk
dalam salatnya, dan orang-orang yang
menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan)
yang tiada berguna, dan orang-orang
yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang
menjaga kemaluannya, kecuali
terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki;
maka sesungguhnya mereka dalam hal
ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik
itu maka mereka itulah orang-orang
yang melampaui batas. Dan orang-orang yang
memelihara amanat-amanat (yang
dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang
memelihara sembahyangnya. Mereka
itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang
akan mewarisi surga Firdaus. Mereka
kekal di dalamnya”. (Al-Mu’minuun 1-11)
Dalam ayat di atas juga
menggambarkan orang yang beriman dengan sebenar-benar
keimanan, sehingga orang yang tidak
khusyu shalatnya bukan berarti tidak mukmin namun
tidak sempurna keimanannya. Demikian
pula yang belum meninggalkan perbuatan-perbuatan
laghwun, yaitu perbuatan sia-sia
bukan berarti kafir, namun orang yang belum sempurna
keimananya dan begitulah seterusnya.
Hingga apabila mereka meninggalkan dasar-dasar
keimanannya seperti membatalkan
syahadat dengan syirik besar, atau membatalkan syahadat
kedua dengan beriman ke[ada
nabi-nabi palsu atau ingkar kepada rukun-rukun iman maka ia
kafir dan hilang imannya sama
sekali.
Dengan keterangan tersebut berarti
kita mengenali ada dua model keimanan, yaitu; keimanan
yang sempurna dan keimanan yang
lemah. Sedangkan kelemahan itu relatif; ada yang dekat
pada kesempurnaan, ada pula yang di
bawahnya dan di bawahnya, ada pula yang sangat
lemah mendekati kekufuran. Jika kita
lihat ayat-ayat di atas dan kita tanyakan mana yang
Laman
4 dari 6
lebih lemah, apakah seseorang yang
tidak khusyu dalam shalatnya atau yang tidak khusyu
dan tidak meninggalkan perbuatan
sia-sia atau seseorang yang disamping tidak khusyu, tidak
meninggalkan perbuatan sia-sia juga
dia jatuh ke dalam zina dan tidak menjaga kemaluannya
dari yang haram. Tentunya secara
fiqih, mereka yang meninggalkan sifat-sifat kesempurnaan
iman berarti dia lebih jauh dari
kesempurnaan dan lebih lemah imannya. Inilah yang kita
namakan berkurangnya keimanan. Para
ulama menyebutkan bahwa keimanan akan berkurang
dengan kemaksiatan-kemaksiatan,
semakin banyak kemaksiatan yang dilakukan, maka akan
semakin berkurang keimanannya.
Berkata Imam Abu Utsman Ash-Shaabuni
-rahimahullah- : “Di antara madzhab Ahlul-
Hadits adalah bahwa iman merupakan
ucapan, amalan, dan pengenalan (terhadap Allah), bisa
bertambah dengan ketaatan dan
berkurang karena kemaksiatan”. (Aqidatus-Salaf wa
Ashabul-Hadits, hlm:264)
Imam Ahmad -rahimahullah- pernah
ditanya tentang makna bertambah dan berkurangnya
iman? Kemudian beliau menjawab
dengan menukilkan ucapan dengan sanadnya sampai
kepada ‘Umair bin Hubaib
-rahimahullah-, dia berkata: “Iman bertambah dan berkurang”.
Maka dia ditanya, “Bagaimana
bertambah dan berkurangnya?” Dia menjawab: “Jika kita
ingat Allah, memuji-Nya, bertasbih
kepada-Nya, maka demikianlah bertambahnya. Dan jika
kita lalai, melupakan-Nya,
menyia-nyiakan-Nya maka itulah berkurangnya”. (Aqidatus-
Salaf wa Ashabul-Hadits,
hlm:265-266)
Demikian pula kita katakan
hadits-hadits yang menafikan keimanan dari orang yang belum
mengerjakan sifat-sifat kesempurnaan
iman, seperti ucapan Rasulullah -salallahu’alaihi wa
sallam- : “Tidak beriman salah
seorang kalian hingga engkau menyukai untuk saudaramu
apa-apa yang engkau sukai dari
dirimu”. (Muttafaq ‘alaih)
Dalam hadits ini Rasulullah
-shalallahu’alaihi wa sallam- memberikan syarat yang sangat
berat yaitu menyukai untuk
saudaranya apa yang disukai oleh dirinya, namun apakah
bermakna orang yang egois yang
mementingkan diri sendiri adalah kafir? Tentu tidak.
Dan sabda Rasulullah
-shalallahu’alaihi wa sallam- lainnya:
“Tidak beriman seseorang di antara
kalian hingga menjadikan aku lebih dicintai daripada
anaknya, orangtuanya atau seluruh
manusia lainnya”. (Muttafaq’alaih)
Para ulama memahami ucapan
Rasulullah -shalallahu’alaihi wa sallam- “tidak beriman”
adalah tidak beriman dengan keimanan
yang sempurna.
2. Berkurangnya iman dengan mengerjakan
dosa-dosa
Dan ucapan-ucapan Rasulullah
-shalallahu’alaihi wa sallam- lainnya yang meniadakan
keimanan bagi orang yang melakukan
dosa-dosa tertentu:
“Demi Allah tidak beriman, demi
Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman!” Seseorang
bertanya, “Siapakah yang tidak
beriman wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu
seseorang yang tetangganya merasa
tidak aman karena gangguannya.” (Muttafaq’alaih)
Tentunya bukan bermakna kafir tetapi
memiliki keimanan yang sempurna atau
menurunnya keimanannya, yang
demikian karena sudah disebutkan secara jelas di dalam Al-
Quran pembatal-pembatal keimanan
diantaranya kesyirikan yang besar. Dan juga telah
dijelaskan bahwa dosa-dosa selain
syirik masih ada kemungkinan diampuni.
Allah -Subhanallahu wa Ta’ala-
berfirman:
Laman
5 dari 6
“Sesungguhnya Allah tidak akan
mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa
yang selain dari (syirik) itu, bagi
siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang
mempersekutukan Allah, maka sungguh
ia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisa:48)
3. Berkurangnya iman dengan meninggalkan
cabang-cabang keimanan
Dalam riwayat yang lainnya
Rasulullah -shalallahu’alaihi wa sallam- bersabda:
“Iman itu memiliki 70 lebih atau 60
lebih cabang, yang paling tinggi adalah Laa Ilaaha
Illallah, yang paling rendahnya
adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Dan malu adalah
bagian dari iman”. (Muttafaq’alaih)
Maka di dalam hadits diatas
Rasulullah -shalallahu’alaihi wa sallam- menyebutkan bahwa
iman memiliki sekian cabang, yang
paling tingginya adalah ucapan laa ilaaha illallah yang
paling rendahnya adalah
menghilangkan gangguan dari jalan, di samping menunjukkan
bahwa perbuatan yang baik (amal
shalih) termasuk dalam keimanan juga menunjukkan
bahwa jika berkurang cabang tersebut
maka berkurang keimanannya, sampai hilang sama
sekali keimanannya. Hingga jika
hilang cabang yang utama yaitu laa ilaaha illallah maka
hilanglah keimanannya secara
keseluruhan.
Sufyan bin ‘Uyainah -rahimahullah-
berkata: “Iman mencakup ucapan dan amal perbuatan,
bisa bertambah dan bisa berkurang”.
Kemudian saudaranya yaitu Ibrahim bin ‘Uyainah
bertanya kepadanya: “(Apakah juga)
berkurang?” Maka dia menjawab: “Diamlah kamu
wahai anak kecil! Tentu saja bisa
berkurang, sampai-sampai tidak bersisa sama sekali”.
(Aqidatus-Salaf wa Ashabul-Hadits,
hlm:270-271).
Setiap anak yang baru lahir
mengetahui bahwa Tuhannya hanya satu yaitu
Allah Swt., tidak peduli keyakinan
apa yang dipeluk oleh kedua orang tuanya. Namun bukan
berarti seorang anak yang lahir
dengan fitrah seperti itu, atau keyakinan alami, ketika nanti
dia tumbuh besar akan menjadikannya
seorang Muslim yang baik dan beriman.
Sudah menjadi tugas setiap Muslim
untuk menjaga dan mengevaluasi kadar keimanannya.
Artinya seseorang harus secara rutin
menjaga imannya dan mengamati apakah kadar
keimanannya berkurang atau bertambah
dan mencari tahu apa sebabnya. Seandainya kadar
keimanannya berkurang, maka ia harus
meningkatkannya sebelum benar-benar turun hingga
bisa menghancurkan hatinya. Terdapat
banyak cara untuk meningkatkan kadar keimanan
seseorang dan perbuatan-perbuatan
itu termasuk di dalamnya dengan memperbanyak berbuat
baik dan menghindari perbuatan dosa
dan menjauhi orang yang mengajak kepada perbuatan
dosa itu.
Ada 10 langkah yang bisa ditempuh
guna meningkatkan kadar keimanan kita:
1. Membaca dan merenungkan ayat-ayat
Al-Qur'an. Dengan begitu akan membuat hati
tenang dan damai. Untuk mendapatkan
manfaat yang lebih, anggap Allah sedang berbicara
dengan kita. Manusia digambarkan
dalam beberapa kategori di dalam Al-Qur'an; pikirkan
kategori manusia seperti apa kita.
2. Menyadari kebesaran Allah Swt.
Semuanya berada dalam kendali-Nya. Terdapat banyak
tanda-tanda kebesaran-Nya yang bisa
kita saksikan. Semua yang terjadi merupakan
kehendak-Nya. Allah Swt. melihat dan
mencatat segala sesuatu, bahkan seekor semut hitam
yang berada di bebatuan hitam di
dalam malam yang gelap gulita tanpa sinar bulan tetap akan
terlihat dan dicatat.
3. Berusahalah untuk menambah
pengetahuan, setidaknya sesuatu yang dasar dalam hidup
kita misalkan bagaimana berwudhu
yang benar. Mengetahui makna di balik nama-nama
Allah dalam asmaul husna. Orang yang
bertaqwa adalah mereka yang berilmu.
4. Menghadiri majelis-majelis yang
di dalamnya berisi kegiatan untuk mengingat Allah.
Dalam majelis seperti itu kita akan
dikelilingi oleh para malaikat.
5. Kita harus memperbanyak perbuatan
baik. Satu perbuatan baik akan diikuti oleh perbuatan
baik lainnya. Allah Swt. akan
mempermudah jalan bagi seseorang yang melakukan perbuatan
baik. Perbuatan baik harus dilakukan
secara terus menerus bukan cuma sesekali saja.
6. Kita harus takut akan kematian;
mengingat mati akan membuat kita takut untuk berbuat
kesenangan.
7. Mengingat beberapa tingkatan
akhirat, contohnya ketika kita di dalam kubur, ketika kita
diadili atau ketika kita di surga
atau neraka.
8. Berdoa, sebagai realisasi bahwa
kita membutuhkan Dia. Tundukkan diri kita dan jangan iri
terdapat sesuatu yang berbau materi
yang ada di dunia ini.
9. Cinta kita kepada Allah Swt.
harus ditunjukkan dalam bukti nyata. Kita mengharap Allah
akan menerima semua ibadah kita, dan
menghindarkan kita dari berbuat dosa. Sebelum tidur,
kita harus merenungkan perbuatan
baik apa saja yang telah kita lakukan pada hari ini.
10. Menyadari dampak dari dosa dan
ketidaktaatan- kadar keimanan seseorang akan
meningkat dengan cara berbuat baik
dan kadar keimanan kita akan menurun apabila berbuat
maksiat. Semua yang terjadi
merupakan kehendak-Nya. Ketika musibah menimpa kita-
itupun berasal dari Allah Swt. Dan
merupakan akibat langsung dari ketidaktaatan kita
kepada-Nya.
· PENUTUP
Demikian yang dapat kami paparkan
mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam
makalah ini, tentunya masih banyak
kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya
pengetahuan dan kurangnya rujukan
atau referensi yang ada hubungannya dengan judul
makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca
yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang
membangun kepada penulis demi
sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di
kesempatan – kesempatan berikutnya.
Semoga makalah ini berguna bagi
penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman
pada umumnya.
PERSAHABATAN YANG HAKIKI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar