Makalah tentang pendidikan islam dalam
lingkungan sekolah

Disusun
oleh :
Bagus
mukhlisin
Tugas
: bahasa Indonesia
Thn
ajaran : 2014 -2015
Asatidz :
Asep Yusup Zaeni

Puji syukur kita
panjatkan ke hadirat Allah swt, yang telah memberikan kesehatan jasmani maupun
rohani sehinggga saya dapat menulis Makalah ini yang berjudul“PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI LINGKUNGAN SEKOLAH.”. Dengan tujuan penulisan sebagai
sumber bacaan yang dapat digunakan untuk
memperdalam pemahaman dari materi ini.
Selain itu,
penulisan makalah ini tak terlepes pula dengan tugas mata pelajaran bahasa
indonesia.
Namun penulis
cukup menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna.Oleh karena itu,
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran pembaca yang bersifat membangun.
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar
Daftar
Isi
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB
II PEMBAHASAN
A.
Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam dalam Sekolah
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan
B.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Semakin canggihnya ilmu pengetahuan,
semakin majunya peredaran zaman dan
manusiapun beragam. kemewahan di bidang harta tidak akan menjamin
kebahagiaan seseorang jika orang tersebut tidak bisa menikmati kekayaan itu,
apalagi bagi orang yang serba kekurangan atau merasa kurang cukup
terus-menerus. Banyak anak-anak yang tidak patuh lagi kepada orang tuanya,
tentunya sangat dikhawatiran yang mengakibatkan perasaan tidak tenang dan
selalu gelisah, bahkan banyak orang yang mengalami penyakit stress yang mereka
sendiri tidak tahu obatnya, mencari tempat berpegang kepada siapa dan bagaimana
cara menenangkan perasaan yang stress itu, bahkan mereka sering bingung,
dihinggapi rasa takut dan rasa bersalah yang tidak tahu sebabnya.
Oleh karena itu, tentu sangat perlu
dijelaskan bagaimana pendidikan anak sebelum lahir, masa bayi, masa
kanak-kanak, dewasa, bahkan sampai mereka tua. Pendidikan anak pada usia dini
juga sangat dianjurkan, hal ini dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang
tidak diinginkan. Karena pendidikan agama islam sejak dini sangat berpengaruh
terhadap pembentukan karakter dan kepribadian para peserta didik. Proses
belajar dan pembelajaran bisa dilakukan pada jalur formal maupun informal.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang
dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1.
Bagaimanna pelaksanaan pendidikan
agama Islam dalam sekolah?
C. Tujuan Penulisan
1.
Mengetahui pelaksanaan pendidikan
agama Islam dalam sekolah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam
dalam Sekolah
Pendidikan agama adalah unsur
terpenting dalam pendidikan moral dan pembinaan mental.Pendidikan moral yang
paling baik sebenarnya terdapat dalam agama karena nilai-nilai moral yang dapat
dipatuhi dengan kesadaran sendiri dan penghayatan tinggi tanpa ada unsur
paksaan dari luar, datangnya dari keyakinan beragama.Pendidikan agama di
sekolah mendapat beban dan tanggung jawab moral yang tidak sedikit apalagi jika
dikaitkan dengan upaya pembinaan mental remaja.Usia remaja ditandai dengan
gejolak kejiwaan yang berimbas pada perkembangan mental dan pemikiran, emosi,
kesadaran sosial, pertumbuhan moral, sikap dan kecenderungan serta pada
akhirnya turut mewarnai sikap keberagamaan yang dianut (pola ibadah).
Pada sekolah-sekolah yang menyiapkan
peserta didiknya menjadi ahli agama atau pemimpin agama seperti di madrasah
atau seminari, seluruh kegiatan pembelajaran umumnya benar-benar diarahkan
untuk mendukung tujuan pendidikan yang ada.
Terdapat
tiga karakter sekolah yang terkait dengan pendidikan agama di sekolah.Pertama
sekolah negeri, kedua sekolah swasta umum non yayasan agama dan sekolah swasta
yayasan agama dan sekolah calon ahli atau pimpinan agama seperti madrasah dan
seminari. Varian karakter ini awalnya terbentuk karena perbedaan sumber
pembiayaan, pengawasan dan otonomi sekolah, serta misi dan
intervensi pada kurikulum. Dalam perkembangannya dinamika sekolah juga turut
mempengaruhi karakter sekolah.Tiga karakter ini pada akhirnya juga terkait
dengan persoalan multikulturalisme dalam masyarakat.
Pada sekolah
negeri dan sekolah swasta umum non yayasan keagamaan, pada jam pelajaran agama
siswa dipisah menurut agama yang berbeda-beda. Selama puluhan tahun praktek
pendidikan agama di sekolah seperti ini belum ada yang memberikan perhatian
secara serius bahwa pemisahan siswa pada jam pelajaran agama adalah sebuah
pembiasaan dan penanaman kesadaran bahwa agama adalah sesuatu yang memisahkan
(kebersamaan) manusia.
Di kalangan
peserta didik di sekolah Negeri pelajaran agama berlangsung lebih teratur dan
siswa beragam agama hampir selalu mendapatkan guru pelajaran agama sesuai
dengan keyakinan para siswa karena secara umum pemerintah mengusahakan guru agama
bagi semua peserta didik. Sebagai milik pemerintah, semua aktifitas
pembelajaran di sekolah negeri mengikuti secara penuh apa yang menjadi
kebijakan pemerintah di bidang pendidikan.
Pada sekolah-sekolah yang menyiapkan
peserta didiknya menjadi ahli agama atau pemimpin agama seperti di madrasah
atau seminari, seluruh kegiatan pembelajaran umumnya benar-benar diarahkan
untuk mendukung tujuan pendidikan yang ada.Sayangnya keseriusan pada satu
bidang ini menyebabkan kecenderungan kurang terbuka bagi pergaulan yang lebih
luas, yang dengan demikian membatasi pengalam dengan keragaman juga. Minimnya
pengalaman akan keragaman perlu dikaji apakah ada kaitannya dengan sensitivitas
pada yang berbeda. Sensitivitas pada yang berbeda hanya akan berkembang ketika
ada pengalaman dengan yang berbeda dan menggerti adanya perspektif yang berbeda
juga.
Di sekolah
umum yayasan keagamaan di mana biaya operasional secara umum ditanggung oleh
yayasan dan wali murid, terdapat kebijakan sekolah yang menunjukkan keunikan
yayasan.Keunikan ini tampak dalam penerimaan guru, hingga tambahan pelajaran
maupun kegiatan ekstrakurikuler yang mewadahi pemenuhan misi yayasan keagamaan
melalui pendidikan.
Pengawasan
yang dilakukan oleh pemerintah lebih banyak pada soal jaminan kualitas pendidikan,
tetapi umumnya tidak menyentuh pada soal keunikan sekolah yayasan keagamaan.
Baru menjelang penetapan Undang-Undang no.20 tentang Sistem Pendidikan Nasional
tahun 2003, banyak sekolah di bawah yayasan keagamaan yang merasa otonominya
diganggu terutama berkaitan dengan pasal 13 yang mewajibkan semua sekolah
memberikan pelajaran agama yang sesuai dengan agama yang dianut oleh siswa.
Hingga tahun 2009 ini banyak sekolah yayasan keagamaan yang tidak bisa memenuhi
tuntutan pasal 13 UU no,20 tahun 2003 itu karena alasan teknis pembiayaan guru
dan alasan lain adalah menolak pelanggaran otonomi yayasan yang merasa tidak
memaksa siswa untuk masuk ke sekolah yang mempunyai keunikan tertentu.
Menurut teori pendidikan Islam,
teori pendidikan anak dimulai jauh sebelum anak diciptakan. Dalam hubungan ini
orang tua perlu menyadari betapa pentingnya pendidikan agama islam setiap
anggota keluargakhususnya bagi anak-anak. Pendidikan agama yang ditanamkan
sedini mungkin kepada anak-anak akan sangat berpengaruh positif terhadap
pertumbuhan dan perkembangan budi pekerti dan kepribadian mereka.
Oleh sebab itu orang tua
berkewajiban untuk memberikan bimbingan dan contoh konkrit berupa suri tauladan
kepada anak-anak bagaimana seseorang harus melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan
keluarga dan masyarakat, agar mereka dapat hidup selamat dan sejahtera. Jadi,
keluarga mempunyai fungsi sebagai berikut :
1. Keluarga Sebagai Wadah Utama Pendidikan
2. Pembentukan Keluarga
3. Keluarga ialah masyarakat terkecil sekurang kurangnya
terdiri dari pasangan suami isri sebagai sumber intinya berikut anak-anak yang
lahir dari mereka. Agar tujuan terlaksana maka perlu meningkatkan tentang
bagaimana membina kehidupan keluarga sesuai dengan tuntutan agama dan ketentuan
hidup bermasyarakat .
4. Pembinaan Keluarga
5. Maksudnya adalah segala upaya pengelolaan atau
penanganan berupa merintis, meletakkan dasar, melatih, membiasakan, memelihara,
mencegah, mengawasi, menyantuni, mengarahkan serta mengembangkan kemampuan
suami istri untuk mencapai tujuanmewujudkan keluarga bahagia sejahtera dengan
mengadakan dan menggunakan segala dana dan daya yang dimiliki.
Sekolah umum
di bawah yayasan non keagamaan dan keagamaan mempunyai peluang yang lebih besar
untuk membuat eksperimentasi pendidikan agama yang salah satunya bisa menjadi
tanggapan atas masyarakat yang multikultural.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
1. Lingkungan
sekolah merupakan yang utama yang secara langsung berpengaruh
terhadap perilaku dan perkembangan peserta
didik.
2.
Sekolah adalah lanjutan dari
pendidikan keluarga yang mendidik lebih fokus,teratur dan terarah.
3. sekolah
juga merupakan peranaan penting dalam pendidikan peserta didik terurama
pendidikan agama islam.
B. SARAN
Penulis
bersedia menerima kritik dan saran yang positif dari pembaca. Penulis akan
menerima kritik dan saran tersebut sebagai bahan pertimbangan yang memperbaiki
makalah ini di kemudian hari. Semoga makalah ini bermanfaat bagi
pembacanya..aaaamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar