AKHLAK
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT
atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, dan tak lupa pula penulis mengirim salam
dan salawat kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang telah membawakan penulis
suatu ajaran yang benar yaitu agama Islam, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Akhlak” ini dengan lancar.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 21 yang
artinya,
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri
teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21)
Dalam ayat tersebut dengan jelas Allah SWT
menerangkan dan menegaskan bahwa kita sebagai makhluk-Nya haruslah memiliki
sifat atau akhlak yang baik, seperti yang terlihat pada diri Rasulullah
Muhammad SAW. Kepribadian beliau mulai dari, tingkah laku, perkataan dan
pemikiran harus kita teladani agar kita menjadi hamba Allah yang dicintai-Nya.
Manusia yang hidup dalam bimbingan akhlak akan melahirkan suatu kesadaran untuk
berperilaku yang sesuai dengan tuntutan dan tuntunan Allah dan Rasulnya, serta
akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.a Latar Belakang
1.b Tujuan
1.c Manfaat Penulisan
BAB II
RUMUSAN MASALAH
BAB III
PEMBAHASAN
2.a Pengertian Akhlak
2.b Sumber dan Ciri-Ciri
Akhlak Islami
2.c Pembagian Akhlak
A. Akhlak Mahmudah
B. Akhlak
Madzmumah
2.d Akhlak Terhadap Orang Tua,
Guru, dan Teman atau Orang Lain
A. Akhlak Seorang
Anak Terhadap Orang Tuanya
B. Akhlak
Seorang Murid Terhadap Gurunya
C. Akhlak
Seorang Muslim Terhadap Teman dan Orang Lain
2.e Pergaulan Remaja Masa
Kini
BAB IV
KESIMPULAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.a
Latar Belakang
Dalam
kehidupan sehari-hari seorang muslim yang berpedoman pada ajaran-ajaran Islam
dapat terpancar dari tingkah lakunya (akhlak) sehari-hari, baik dalam
lingkungan keluarga maupun lingkungan sosialnya. Tingkah laku yang baik itulah
mencerminkan sikap seorang muslim seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad
SAW beliau merupakan contoh dan panutan kita sebagai seorang muslim. Bahkan
Allah SWT dengan jelas berfirman di dalam Al-Quran mengenai akhlak Nabi yang
harus kita contoh dan teladani, yang berbunyi:
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada
(diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia
banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab ayat 21)
Nabi Muhammad SAW disegani
tidak hanya oleh kaum muslimin, bahkan musuh kaum muslimin pada zaman itupun
juga ikut menyegani Nabi karena sifat dan tingkah lakunya. Dari kecil hingga
dewasa beliau merupakan sosok yang dikenal memiliki tingkah laku atau akhlak
yang mulia, misalnya beliau dipanggil dengan gelar Al-amin artinya orang yang
dapat dipercaya. Beliau sangat sayang dan menyantuni anak yatim serta kaum
dhuafa. Dan masih banyak lagi sifat serta tingkah laku beliau yang patut kita
contoh.
Akhlak bisa dibentuk melalui
kebiasaan. Seseorang yang mengerti benar akan kebiasaan perilaku yang diamalkan
dalam pergaulan semata-mata taat kepada Allah dan tunduk kepada-Nya merupakan
ciri-ciri orang yang mempunyai akhlak. Oleh karena itu seseorang yang sudah
benar-benar memahami akhlak maka dalam bertingkah laku akan timbul dari hasil
perpaduan antara hati nurani, pikiran, perasaan, bawaan dan kebiasaan yang
menyatu membentuk suatu kesatuan tindakan akhlak yang dihayati dalam kenyataan hidup
keseharian.Dengan demikian memahami akhlak adalah masalah fundamental dalam
Islam. Namun sebaliknya tegaknya aktifitas keislaman dalam hidup dan kehidupan
seseorang itulah yang dapat menerangkan bahwa orang itu memiliki akhlak. Jika
seseorang sudah memahami akhlak dan menghasilkan kebiasaan hidup yang baik,
yakni pembuatan itu selalu diulang-ulang dengan kecenderungan hati (sadar).
Tidak bisa dipungkiri, untuk
menjadi manusia yang dihormati dan disegani oleh masyarakat sekitar kita harus
memiliki kepribadian yang bagus dan akhlak yang mulia. Tidak ada satu orang
hebatpun di dunia ini yang tidak memiliki akhlak yang bagus. Sehebat dan
sepintar apapun kita kalau akhlak dan kepribadian kita jelek dimata masyarakat,
maka kita akan dikucilkan dan tidak dianggap di masyarakat.
Akhlak merupakan sesuatu yang
sangat dibutuhkan dimanapun kita berada. Dewasa ini banyak sekali anak yang
menentang dan melawan terhadap orang tunya, ini merupakan fenomona yang lazim
terjadi di masyarakat kita, akhlak seorang anak terhadap orang tua sudah sangat
menghawatirkan. Mereka bisa bersikap baik dengan teman tapi tidak bisa bersikap
baik kepada orang tua, ini merupakan contoh kecil dari penyelewengan akhlak
yang sering dilakukan oleh remaja dan anak zaman sekarang.
1.b Tujuan
1. Mengetahui
pengertian akhlak.
2. Mengetahui
sumber dan ciri-ciri akhlak islami.
3. Mengetahui
pembagian akhlak.
4. Mengetahui
akhlak terhadap orang tua, guru, teman atau orang lain.
5. Mengetahui
akhlak dalam pergaulan masa kini.
1.c Manfaat Penulisan
Manfaat yang bisa kita ambil
dari penulisan makalah yang berjudul akhlak ini yaitu pembaca diharapkan bisa
mengetahui dan mempelajari tentang akhlak yang baik itu seperti apa, pentingnya
akhlak dalam kehidupan sehari-hari serta bagaimana akhlak dalam bertindak dan
bertingakah laku dalam keluarga dan masyarakat.
BAB II
RUMUSAN MASALAH
Adapaun beberapa masalah yang akan dibahas dalam
makalah ini antara lain, sebagai berikut:
1. Apa
pengertian akhlak?
2. Apa
sumber dan ciri-ciri akhlak islami?
3. Bagaimana
pembagian akhlak?
4. Bagaimana
akhlak terhadap orang tua, guru, teman atau orang lain?
5. Bagaimana
akhlak dalam pergaulan masa kini?
BAB III
PEMBAHASAN
2.a Pengertian Akhlak
Diterjemahkan
dari kitab Is’af Thalibi Ridhol Khallaq Bibayani Makarimil Akhlaq,akhlak adalah
sifat-sifat dan perangai yang diumpamakan pada manusia sebagai gambaran batin
yang bersifat maknawi dan rohani.Dimana dengan gambaran itulah manusia
dibangkitkan disaat hakikat segala sesuatu tampak dihari kiamat nanti.
Sedangkan
istilah akhlak menurut Ibnu Maskawi adalah sesuatu keadaan bagi jiwa yang
mendorong ia melakukan tindakan-tindakan dari keadaan itu tanpa melalui pikiran
dan pertimbangan. Keadaan ini terbagi dua, ada yang berasal dari tabiat aslinya,
ada pula yang diperoleh dari kebiasaan yang berulang-ulang. Boleh jadi, pada
mulanya tindakan itu melalui pikiran dan pertimbangan, kemudian dilakukan terus
menerus, maka jadilah suatu bakat dan akhlak.
Akhlak adalah
kata jamak dari khuluk yang kalau dihubungkan dengan manusia,kata khuluk lawan
kata dari kholq. Perilaku dan tabiat manusia baik yang terpuji maupun yang
tercela disebut dengan akhlak.Akhlak merupakan etika perilaku manusia terhadap
manusia lain, perilaku manusia dengan Allah SWT maupun perilaku manusia
terhadap lingkungan hidup. Segala macam perilaku atau perbuatan baik yang
tampak dalam kehidupan sehari-hari disebut akhlakul kharimah atau akhlakul
mahmudah.Acuhannya adalah Al-Qur’an dan Hadist serta berlaku universal.
Rasulullah SAW
sendiri mencontohkan kepada kita betapa pentingnya memiliki akhlak yang baik di
kehidupan bermasyarakat baik akhlak kepada orang tua, orang yang lebih muda,
orang yang lebih tua, kepada kaum dhuafa, kepada teman, tetangga, dan lain
sebagainya.
2.b Sumber dan Ciri-Ciri Akhlak Islami
Persoalan
“Akhlak” di dalam Islam banyak dibicarakan dan dimuat pada Al-Qur’an dan
Al-Hadits. Sumber tersebut merupakan batasan-batasan dalam tindakan
sehari-hari bagi manusia. Ada yang menjelaskan arti baik dan buruk. Memberi
informasi kepada umat, apa yang semestinya harus diperbuat dan bagaimana harus
bertindak. Sehingga dengan mudah dapat diketahui, apakah perbuatan itu terpuji
atau tercela, benar atau salah.
Kita telah
mengetahui bahwa akhlak Islam merupakan sistem moral/akhlak yang berdasarkan
Islam, yakni bertitik tolak dari akidah yang diwahyukan Allah pada
Nabi/Rasul-Nya yang kemudian agar disampaikan kepada umatnya.
Memang
sebagaimana disebutkan terdahulu bahwa secara umum akhlak/moral terbagi atas
moral yang berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan dan kehidupan akhirat dan kedua
moral yang sama sekali tidak berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan, moral ini
timbul dari sumber-sumber sekuler.
Akhlak Islam,
karena merupakan sistem akhlak yang berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan, maka
tentunya sesuai pula dengan dasar daripada agama itu sendiri. Dengan demikian,
dasar/sumber pokok daripada akhlak Islam adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits yang
merupakan sumber utama dari agama Islam itu sendiri.
Memang tidak
disanksikan lagi bahwa segala perbuatan/tidakan manusia apapun bentuknya pada
hakikatnya adalah bermaksud untuk mencapai kebahagiaan (saadah), dan hal ini
adalah sebagai “natijah” dari problem akhlak. Sedangkan saadah menurut sistem
moral/akhlak yang agamis(Islam), dapat dicapai dengan jalan menuruti perintah
Allah yakni dengan menjauhi segala larangan Allah dan mengerjakan segala
perintah-Nya, sebagaimana yang tertera dalam pedoman dasar hidup bagi setiap
muslim yakni Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Sehubungan
dengan Akhlak Islam, Drs. Sahilun A, Nasir menyebutkan bahwa Akhlak Islam
berkisar pada:
1. Tujuan
hidup setiap muslim, ialah menghambakan dirinya kepada Allah, untuk mencapai
keridhaan-Nya, hidup sejahtera lahir dan batin, dalam kehidupan masa kini
maupun yang akan datang.
2. Dengan
keyakinannya terhadap kebenaran wahyu Allah dan sunah Rasul-Nya, membawa
konsekuensi logis, sebagai standar dan pedoman utama bagi setiap moral muslim.
Ia memberi sanksi terhadap moral dalam kecintaan dan kekuatannya kepada Allah,
tanpa perasaan adanya tekanan-tekanan dari luar.
1. Keyakinannya
akan hari kemudian/pembalasan, mendorong manusia berbuat baik dan berusaha
menjadi manusia sebaik mungkin, dengan segala pengabdiannya kepada Allah.
2. Islam
tidak mengajarkan moral yang baru, yang bertentangan dengan ajaran dan jiwa
Islam. Tetapi semua ajarannya berasaskan dari Al-Qur’an dan Al-Hadits yang
diinterprestasikan oleh ulama mujtahid.
3. Ajaran
akhlak Islam meliputi segala segi kehidupan manusia berdasarkan asas kebaikan
dan bebas dari segala kejahatan. Islam tidak hanya mengajarkan tetapi
menegakkannya, dengan janji dan sanksi Illahi yang Maha Adil. Tuntutan moral
sesuai dengan bisikan hati nurani, yang menurut kodratnya cenderung
kepada kebaikan dan membenci keburukan.
Akhlak di
dalam ajaran Islam sangat rinci, berwawasan multi dimensial bagi kehidupan,
sistematis dan beralasan realitas. Juga akhlak banyak dibicarakan tentang
konsekuensi bagi manusia yang tidak berpegang pada akhlak Islam. Manusia yang
mengaku beragama Islam tetapi lebih cenderung melawan dan tidak berpegang teguh
pada akhlak Islam dapat dipastikan perbuatan dan tingkah lakunya akan dibenci
oleh masyarakat dan akan melenceng dari ajaran agama Islam meskipun dalam
syariat yang lain seperti shalat dan puasa tidak pernah ditinggalkannya.
Akhlak Islam
bersifat mengarahkan, membimbing, mendorong, membangun peradaban manusia dan
mengobati bagi penyakit sosial dari jiwa dan mental. Tujuan berakhlak yang baik
yaitu untuk mendapatkan kebahagiann di dunia dan akhirat. Dua simbolis tujuan
inilah yang diidamkan manusia bukan semata berakhlak secara Islami hanya
bertujuan untuk kebahagiaan dunia saja.
Dalam ajaran
Islam memelihara sifat terpuji merupakan kewajiban kita sebagai hamba Allah
yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dan adapun ciri-ciri akhlak
Islamiyah yaitu:
1. Kebajikan
yang mutlak
2. Kebaikan
yang menyeluruh
3. Kemantapan
4. Kewajiban
yang dipatuhi
5. Pengawasan
yang menyeluruh
2.c Pembagian Akhlak
Secara garis besar akhlak dibagi menjadi dua,
yaitu:
A.
Akhlak Mahmudah
“Akhlak mahmudah adalah tingkah laku terpuji
yang merupakan tanda keimanan seseorang. Akhlak mahmudah atau akhlak terpuji
ini dilahirkan dari sifat-sifat yang terpuji pula”.
Sifat terpuji yang dimaksud adalah, antara lain:
cinta kepada Allah, cinta kepada Rasul, taat beribadah, senantiasa mengharap
ridha Allah, tawadhu’, taat dan patuh kepada Rasulullah, bersyukur atas segala
nikmat Allah, bersabar atas segala musibah dan cobaan, ikhlas karena Allah,
jujur, menepati janji, qana’ah, khusyu dalam beribadah kepada Allah,
mampumengendalikandiri,silaturrahim, menghargai orang lain, menghormati orang
lain, sopan dan santun dalam bermasyarakat, suka bermusyawarah, suka menolong
kaum yang lemah, rajin belajar dan bekerja, hidup bersih, menyayangi sesama
makhluk hidup Allah, dan menjaga kelestarian alam.
B.
Akhlak Madzmumah
“Akhlak madzmumah adalah tingkah laku yang
tercela atau perbuatan jahat yang merusak iman seseorang dan menjatuhkan
martabat manusia.”
Sifat yang termasuk akhlak madzmumah adalah segala
sifat yang bertentangan dengan akhlak mahmudah, antara lain: kufur, syirik,
munafik, fasik, murtad, takabbur, riya, dengki, bohong, menghasut, bakhil,
boros, dendam, khianat, tamak, fitnah, qati’urrahim, ujub, mengadu domba,
sombong, putus asa, kotor, mencemari lingkungan, dan merusak alam.
Demikianlah antara lain
macam-macam akhlak mahmudah dan madzmumah. Akhlak mahmudah memberikan manfaat
bagi diri sendiri dan orang lain, sedangkan akhlak madzmumah merugikan diri
sendiri dan orang lain. Akhlak mahmudah merupakan akhlak yang terpuji dan Nabi
Muhammad adalah orang yang tepat sebagai panutan kita mengenai kepribadiannya
yang tidak diragukan lagi. Semua akhlak beliau merupakan akhlak mahmudah dan
beliau tidak satupun memiliki akhlak madzmumah.
Kemudian, dari segi objeknya,
atau kepada siapa akhlak itu diwujudkan, dapat dilihat seperti berikut:
1. Akhlak
kepada Allah, meliputi antara lain: ibadah kepada Allah, mencintai Allah,
mencintai karena Allah, beramal karena Allah, takut kepada
Allah, tawadhu’, tawakkal kepada Allah, taubat, dan nadam.
2. Akhlak
kepada Rasulullah, meliputi antara lain: taat dan cinta kepada Rasulullah,
menjalankan sunnah-sunnah Rasul, menyayangi anak yatim sebagaimana yang
dicontohkan oleh Rasulullah SAW
3. Akhlak
kepada keluarga, meliputi antara lain: akhlak kepada ayah, kepada ibu,
kepada anak, kepada nenek, kepada kakek, kepada paman, kepada keponakan, dan
seterusnya.
4. Akhlak
kepada orang lain, meliputi antara lain: akhlak kepada tetangga, akhlak
kepada sesama muslim, kepada kaum lemah, dan sebagainya.
5. Akhlak
kepada lingkungan, meliputi antara lain: menyayangi binatang, merawat
tumbuhan, tidak merusak alam, buang sampah pada tempatnya, tidak melakukan
pencemaran, menggunakan dan memanfaatkan alam sesuai dengan keperluan, dan
lain-lain.
2.d Akhlak Terhadap Orang Tua,Guru, danTeman atau Orang
Lain
A. Akhlak Seorang Anak Terhadap Orang
Tuanya
Orang tua adalah penyebab perwujudan kita.
Seandainya mereka tidak ada, kitapun tidak akan pernah ada. Kita tahu bahwa
perwujudan itu disertai dengan kebaikan dan kenikmatan yang tak terhingga
banyaknya, plus berbagai rizki yang kita peroleh dan kedudukan yang kita raih.
Orang tua sering kali mengerahkan segenap jerih payah mereka untuk menghindarkan
bahaya dari diri kita. Mereka bersedia kurang tidur agar kita bisa
beristirahat. Mereka memberikan kesenangan-kesenangan kepada kita yang tidak
bisa kita raih sendiri. Mereka memikul berbagai penderitaan dan mesti berkorban
dalam bentuk yang sulit kita bayangkan.
Dengan demikian, menghardik kedua orang tua dan
berbuat buruk kepada mereka tidak mungkin terjadi kecuali dari jiwa yang bengis
dan kotor, berlumuran dosa, dan tidak bisa diharap menjadi baik. Sebab,
seandainya seseorang tahu bahwa kebaikan dan petunjuk Allah mempunyai peranan
yang sangat besar, tentunya siapapun tahu bagaimana harus berbuat baik kepada
orang yang semestinya memang harus diperlakukan dengan baik. Bersikap mulia
terhadap orang yang telah membimbing, berterima kasih kepada orang yang telah
memberikan kenikmatan sebelum dia sendiri bisa mendapatkannya, dan yang telah
melimpahinya dengan berbagai kebaikan yang tak mungkin bisa di balas. Orang tua
adalah orang yang bersedia berkorban demi anaknya, tanpa memperdulikan apa
balasan yang akan diterimanya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Quran, yang berbunyi:
Artinya:“Wahai orang yang beriman, jagalah
dirimu dan keluargamu dari neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,
penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai
Allah terhadap apa yang perintahkan-Nya serta selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan-Nya.” (QS. At-Tahrim ayat 6)
Firman tersebut merupakan perintah bagi kita untuk
menjaga diri dan keluarga kita agar tidak sampai menjadai penghuni neraka
nantinya. Peran keluarga sangatlah penting dalam membentuk akhlak kita, didikan
orang tua sangat mempengaruhi semua tingkah laku dan akhlak kita sekarang dan
nanti ke depannya, oleh karena itu wajib bagi kita calon orang tua untuk
memiliki akhlak yang baik sehingga ketika sudah berkeluarga nanti kita bisa
mengajarkan kepada anak-anak kita mengenai akhlakul karimah.
Beberapa contoh akhlak seorang muslim terhadap
orang tuanya antara lain:
1. Selalu
berkata sopan dan lemah lembut terhadap orang tua.
2. Hindari
mengatakan tidak untuk perintah orang tua yang baik.
3. Hindari
bermuka masam di hadapan kedua orang tua.
4. Hindari
menyakiti hati kedua orang tua.
5. Selalu
minta doa dan restu pada orang tua.
6. Selalu
meminta maaf kepada kedua orang tua.
A. Akhlak Seorang Murid Terhadap Gurunya
Guru
merupakan orang yang bejasa terhadap sang murid. Dengan kata lain guru
merupakan orang yang mendidik dan memberikan ilmu pengetahuan kepada murid
diluar bimbingan orang tua dirumah, sehingga akhlakul karimah terhadap guru
perlu diterapkan sebagaimana akhlak kita terhadap orang tua.
Adapun
etika dan adab terhadap guru menurut Ibn Jama’ah yaitu:
1. Murid harus mengikuti guru yang
dikenal mempunyai akhlak yang baik, tinggi ilmu dan keahlian, berwibawa, santun
dan penyayang.
2. Murid harus mengikuti dan mematuhi
perintah atau nasehat guru yang tidak bertentangan dengan ajaran agama.
3. Murid harus mengagungkan guru dan
meyakini kesempurnaan ilmunya.
4. Murid harus mengingat kebaikan dan
ajaran (yang baik) dari guru atas dirinya sepanjang hayat meskipun gurunya
sudah wafat.
5. Murid bersikap sabar terhadap
perlakuan kasar atau akhlak buruk guru. Hendaknya berusaha untuk memaafkan
perlakuan kasar, turut memohon ampun dan bertaubat untuk guru.
6. Murid harus menunjukkan rasa
berterima kasih terhadap ajaran guru.
7. Murid tidak mendatangi guru tanpa
izin lebih dahulu, baik guru sedang sendiri maupun bersama orang lain.
8. Harus duduk sopan didepan guru.
9. Bekomunikasi dengan guru secara
santun dan lemah-lembut.
10. Murid tidak boleh menjawab pertanyaan guru meskipun
mengetahui, kecuali guru memberi isyarat murid untuk menjawab.
11. Murid harus mengamalkan tayamun (mengutamakan yang kanan),ketika
memberi sesuatu kepada guru.
B. Akhlak Seorang Muslim Terhadap
Teman dan Orang Lain
Hampir
setiap hari, dikalangan masyarakat maupun di sekolah/kampus, kita sering kali
berkumpul dengan teman sebaya yang memiliki kesamaan dengan kita dalam beberapa
hal. Pada saat kita kesulitan, merekalah orang yang tepat untuk dimintai tolong
baik bersifat pribadi pun kita lebih terbuka.
Manusia
adalah makhluk sosial yang selalu berhubungan dan saling membutuhkan satu sama
lain, setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan serta memerlukan bantuan
orang lain. Dalam pergaulan sehari-hari kita selalu bersama mereka, maka kita
patut menghormatinya serta menghargai kedudukan mereka, demikian pula mereka
akan menghormati dan menghargai kita, cara bergaul yang baik dengan mereka
(teman sebaya) yaitu hendaknya kita turut memikirkan dan mempedulikan persoalan
dan kesulitan mereka serta turut meringankan beban permasalahannya.
Di
antara akhlak kepada teman atau kawan dan orang lain, baik teman di
sekolah/kampus, di lingkungan maupun di tempat-tempat yang lain adalah
1.Menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda,
2. Menjawab salam, menengoknya ketika sakit,
mengiringi jenazahnya ketika meninggal, 3.mendatangi undangannya, dan mendoakan
“yarhamukalloh” untuk yang bersin. Saling
tolong-menolong dalam kebaikan, sebagaimana firman Allah:
وَ تَعَاوَنُوْا عَلَى
الْبِرِّ وَ التَّقْوَى وَ لاَ تَعَاوَنُوْا عَلَى الإِثْمِ وَ الْعُدْوَانِ
Artinya: “Saling tolong-menolonglah di dalam kebajikan dan taqwa,
dan janganlah saling tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Maidah : 2)
2. Tidak mencela
atau mengolok-olok, dan tidak memanggilnya dengan panggilan yang buruk, karena
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ
آمَنُوا لاَ يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُوْنُوْا خَيْرًا مِنْهُمْ
وَ لاَ نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَ لا
تَلْمِزُوْا أَنْفُسَكُمْ وَ لاَ تَنَابَزُوا بِالأَلْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ
الْفُسُوقُ بَعْدَ الإِيمَانِ وَ مَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ
الظَّالِمُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum
mengolok-olok kaum yang lainnya, boleh jadi yang diolok-olok lebih baik
daripada yang mengolok-olok, dan janganlah kaum wanita mengolok-olok wanita
yang lainnya, boleh jadi wanita yang diolok-olok lebih baik daripada wanita
yang mengolok-olok, jangan pula mencela diri sendiri, dan janganlah memanggil
dengan julukan-julukan (yang jelek), sejelek-jelek nama adalah kefasiqan
setelah iman, barangsiapa yang tidak bertaubat mala mereka itulah orang-orang
yang zhalim.”(QS. Al-Hujurat: 11)
3. Tidak
menggunjing yaitu tidak menyebarkan aib dan kekurangannya. Allah SWT berfirman
:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ
آمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَ لاَ
تَجَسَّسُوْا وَ لاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ
يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ وَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ
اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari
prasangka, karena sebagian prasangka itu adalah dosa. Janganlah kalian saling
mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kalian menggunjing
sebagian yang lainnya, apakah salah seorang di antara kalian suka memakan
bangkai saudaranya yang sudah mati ? Tentu kalian tidak menyukainya.
Bertaqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang.” (QS. Al-Hujurat : 12)
4. Tidak saling
mendengki, tidak saling menipu, tidak saling membenci dan tidak saling
membelakangi, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
لاَ تَحَاسَدُوْا وَ لاَ
تَنَاجَشُوْا وَ لاَ تَبَاغَضُوْا وَ لاَ تَدَابَرُوْا
Artinya: “Janganlah kalian saling mendengki, jangan saling menipu,
jangan saling membenci dan jangan saling membelakangi!” (HR. Ahmad dan
Muslim)
5. Tidak saling
menzhalimi, sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsi:
يَا عِبَادِيْ إِنِّيْ
حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِيْ وَ جَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ
تَظَالَمُوْا
Artinya: “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan
zhalim atas diri-Ku, dan Aku pun telah menjadikannya haram di antara kalian
maka janganlah kalian saling menzhalimi!” (HR. Muslim)
6. Tidak menyuruh
berdiri seseorang untuk kemudian dia menduduki tempat duduknya, sebagaimana
sabda Rasulullah SAW:
لاَ يُقِيْمُ الرَّجُلُ
الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ فَيَجْلِسَ فِيهِ وَ لَكِنْ تَفَسَّحُوْا وَ
تَوَسَّعُوْا
Artinya: “Tidak layak menyuruh orang lain berdiri dari tempat
duduknya kemudian dia duduk padanya, tetapi berlapang-lapanglah dan
luaskanlah!” (HR. Ahmad dan Muslim)
7. Tidak boleh
mendiamkan lebih dari tiga hari, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
وَ لاَ يَحِلُّ
لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ
Artinya: ”Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot
saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR Ahmad, Al-Bukhori, Muslim, Abu
Dawud, At-Tirmidzi)
8. Saling
mengoreksi dengan semangat persaudaraan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ
الْمُؤْمِنِ وَ الْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَ يَحُوْطُهُ
مِنْ وَرَائِه
Artinya: “Seorang mu’min adalah cermin bagi mu’min lainnya, dan
seorang mu’min adalah saudara bagi mu’min yang lainnya, dia mencegahnya dari
kerugian dan menjaga (membela)nya di belakangnya.” (HR. Abu Dawud)
9. Tidak suka mencela
dan berkata kotor atau pun kasar, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ
بِالطَّعَّانِ وَ لاَ اللَّعَّانِ وَ لاَ الْفَاحِشِ وَ لاَ الْبَذِيْءِ
Artinya: “Seorang mu’min bukanlah orang yang suka mencela, tidak
suka melaknat, tidak berbuat keji dan tidak berkata kotor.”
(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)
10. Tidak boleh pula memutuskan hubungan
silaturrahim, karena Nabi SAW bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ
قَاطِعٌ
Artinya: “Tidak akan masuk syurga orang yang memutuskan hubungan
silaturrhim.”(HR. Ahmad, Al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
11. Tidak boleh mencuri dengar pembicaraan
yang mereka. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ اسْتَمَعَ إِلَى
حَدِيْثِ قَوْمٍ وَ هُمْ لَهُ كَارِهُوْنَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ صُبَّ فِي
أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya: “Barangsiapa yang berusaha mendengarkan pembicaraan
orang-orang yang mereka tidak suka (untuk didengar pihak lain) atau mereka
menghindarinya niscaya akan dituangkan timah ke dalam telinga mereka pada hari
qiyamat.”(HR. Ahmad dan Al-Bukhori)
12. Memaafkan kesalahan teman-teman,
sebagaimana firman Allah SWT:
وَ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ
سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَ أَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ
لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِيْنَ
Artinya: ”Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa,
maka barang siapa mema’afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan)
Alloh. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim.”
(QS. Asy-Syuro’:40)
13. Memilih teman karib yang baik karena
teman karib atau sahabat dekat akan banyak mempengaruhi agama dan akhlak
seseorang, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ
خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِطُ
Artinya: “Seseorang berdasarkan agama teman dekatnya, maka
hendaklah salah seorang di antara kalian meneliti dengan siapa dia bergaul.”
(HR. Ahmad)
2.e Pergaulan Remaja Masa
Kini
Sebagai makhluk sosial, manusia tak lepas dari orang
lain. Begitu pula dengan remaja. Ia memerlukan interaksi dengan orang lain
untuk mencapai kedewasaannya. Yang perlu dicermati adalah bagaimana seorang
remaja itu bergaul, dengan siapa, dan apa saja dampak pergaulannya bagi
dirinya, orang lain, dan lingkungannya.
Pergaulan berasal dari kata “GAUL”.Pergaulan itu
sendiri maksudnya kehidupan sehari-hari dalam persahabatan ataupun
masyarakat. Namun tidak demikian dikalangan kebanyakan remaja saat ini. “Gaul”
menurut dimensi remaja-remaja adalah ikut dalam trend, mode, dan hal-hal yang
berhubungan dengan glamoran hidup. Harus masuk ke dalam geng-geng, sering
bergabung, dan konkow-konkow diberbagai tempat seperti mall, tempat
wisata, game center, dan lain-lain. yang mana pada akhirnya, gaul dimensi
remaja akan menimbulkan budaya konsumtif.
Solidaritas dan kesetiakawanan sering dijadikan
landasan untuk terjun kedunia hura-hura. Dengan “setia kawan” itu pula
kebanyakan remaja mulai merokok, minum-minuman keras, mengonsumsi narkoba, dan
bahkan seks bebas. Kalau tidak ikut kegiatan-kegiatan geng ataupun teman
nongkrong bisa dianggap tidak setia kawan, paradigma seperti inilah yang menggerayangi
pikiran sebagian remaja masa kini. Sebenarnya dengan tindakan itu mereka telah
merusak kemurnian makna dari solidaritas dan kesetiakawanan itu sendiri.
Pergaulan remaja dibagi ke dalam dua aspek, yakni :
1. Pergaulan
Remaja Yang Sehat
Pergaulan remaja yang sehat adalah pergaulan yang sesuai dengan etika
pergaulan. Adapun beberapa cara mengembangkan pergaulan yang sehat diantaranya:
a. Adanya
kesadaran beragama bagi remaja
Bagi anak remaja sangat diperlukan adanya pemahaman, pendalaman, serta
ketaatan terhadap ajaran-ajaran agama. Dalam kenyataan sehari-hari menunjukkan,
bahwa anak-anak remaja yang melakukan kejahatan sebagian besar kurang memahami
norma-norma agama. Oleh karena itu, kita harus memiliki kesadaran beragama agar
tidak terjerumus dalam pergaulan yang tidak sehat.
b. Memiliki
rasa setia kawan
Agar dapat terjalin hubungan sosial remaja yang baik, peranan rasa setia
kawan sangat dibutuhkan. Sebab kesadaran inilah yang dapat membuat kehidupan
remaja masyarakat menjadi tentram.
c. Memilih
teman
Maksud dari memilih teman adalah untuk mengantisipasi agar kita tidak
terpengaruh dengan sifat yang tidak baik/sehat. Walaupun begitu, tapi teman
yang pegaulannya buruk tidak harus kita asingkan. Melainkan kita tetap berteman
dengannya tapi harus menjaga jarak. Jangan terlalu dekat dengan dia.
d. Mengisi
waktu dengan kegiatan yang positif
Bagi mereka yang mengisi waktu senggangnya dengan bacaan yang buruk
(misalnya novel/komik seks), maka hal itu akan berbahaya, dan dapat menghalang
mereka untuk berbuat baik. Maka dari itu, jika ada waktu senggang kita harus
mengisinya dengan hal-hal yang positif. Misalnya menulis cerpen, menggambar,
atau lainnya.
e. Laki-laki
dan perempuan memiliki batasan-batasan tertentu
Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya remaja harus
menjaga jarak dengan lawan jenisnya. Misalnya, jangan duduk terlalu berdekatan
karena dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.
f. Menstabilkan
emosi
Jika memiliki masalah, kita tidak boleh emosi. Harus sabar dengan cara
menenangkan diri. Harus menyelesaikan masalah dengan komunikasi, bukan
amarah/emosi.
g. Etika
Pergaulan Remaja
Etika berasal dari bahasa Yunani kuno Ethos dalam bentuk tunggal mempunyai
banyak arti: tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan,
adat, akhlak, watak, perasaan,sikap cara berpikir. Dalam bentuk jamak ta etha´
artinya adalah adat kebiasaan. Arti inilah yang melatarbelakangi terbentuknya
istilah etika´ oleh Aristoteles (384-322 SM): ilmu tentang adat kebiasaan, apa
yang biasa dilakukan. Etika mempunyai pengertian yang cukup dekat dengan moral.
Moral dari bahasa latin mos jamaknya mores berarti kebiasaan, adat. Dalam kamus
bahasa Indonesia pertama kali tahun1988 kata mores dipakai dalam arti yang sama
yakni adat kebiasaan. Jadi kata moral dan etika keduanya berasal dari kata yang
berarti adat kebiasaan.
2. Pergaulan
Remaja Yang Tidak Sehat
Pergaulan remaja zaman sekarang memang sangat memprihatinkan, tidak jarang
berbagai berita mengenai kenakalan remaja bermunculan. Mulai dari genk motor
tawuran, seks
bebas, sampai
pada penggunaan narkotika NAPZA. Ini menunjukkan bahwa pergaulan remaja saat
ini sudah tidak sehat lagi. Cara pergaulan remaja yang seperti sekarang ini
tentu saja sangat menimbulkan dampak negatif. Selain memperburuk situasi dan
kondisi pergaulan remaja dan mempengaruhi cara hidup remaja lain, cara
pergaulan remaja yang seperti sekarang juga dapat mempengaruhi kualitas hidup
generasi anak cucu kita.
Remaja merupakan generasi yang diharapkan oleh bangsa
ini, pemimpin dan penerus dari para pemimpin bangsa ini adalah remaja saat ini,
itulah mengapa penting bagi kita untuk membenahi perilaku serta kebiasaan
remaja saat ini yang menyimpang jauh dari kaidah-kaidah kebenaran. Bisa
dibayangkan, bagaimana ke depannya negara ini bila dipimpin oleh pemimpin yang
bermasalah. Mengarahkan serta mengajak para remaja yang bermasalah ini ke jalur
yang benar merupakan tugas dan tanggung jawab kita sebagai warga negara yang
baik. Nasib negara ini tergantung dari kita dan remaja kita.
Adapun solusi permasalahan remaja masa kini yaitu:
1. Pentingnya
kasih sayang dan perhatian yang cukup dari orang tua dalam hal dan keadaan
apapun.
2. Pengawasan
dari orang tua yang tidak mengekang. Pengekangan terhadap seorang anak akan
berpengaruh terhadap kondisi psikologisnya. Di hadapan orang tuannya dia akan
bersikap baik dan patuh, tetapi setelah dia keluar dari lingkungan keluarga,
dia akan menggunakannya sebagai pelampiasan dari pengekangan itu, sehingga dia
dapat melakukan sesuatu yang tidak diajarkan orangtuanya.
3. Seorang
anak hendaknya bergaul dengan teman yang sebaya, yang hanya beda 2 atau 3 tahun
baik lebih tua darinya. Hal tersebut dikarenakan apabila seorang anak bergaul
dengan teman yang tidak sebaya yang hidupnya berbeda, sehingga dia pun bisa
terpengaruh gaya hidupnya yang mungkin belum saatnya untuk dia jalani.
4. Pengawasan
yang lebih terhadap media komunikasi, seperti internet, handphone, dan
lain-lain.
5. Perlunya
bimbingan kepribadian bagi seorang anak agar dia mampu memilih dan membedakan
mana yang baik untuk dia maupun yang tidak baik.
6. Perlunya
pembelajaran agama yang diberikan sejak dini, seperti beribadah dan mengunjungi
tempat ibadah sesuai agamanya.
BAB IV
KESIMPULAN
Akhlak merupakan sesuatu yang sangat penting bagi
kehidupan kita, akan menjadi apa kita kedepannya tergantung dari akhlak kita.
Sebagai hamba Allah yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya sudah menjadi
kewajiban kita untuk selalu berbuat baik dan meninggalkan segala sesuatu yang
buruk.
Sumber dari semua akhlak mahmudah di dunia ini hanya
satu, yaitu yang terdapat pada diri Nabi Muhammad SAW, bila kita mencontoh dan
mengamalkan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari maka bisa dipastikan kita
akan selamat dunia dan akherat.
Wassalam
J J J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar